Malang (beritajatim.com) – Tim mahasiswa Arsitektur S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) sukses meraih Juara 1 dalam ajang War Architecture pada Malang Architecture Week (MAW) 2024. Kesuksesan mereka tidak terlepas dari usaha keras dan perjuangan berlatih.
Acara MAW sendiri diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Malang pada 28-31 Agustus 2024 yang diikuti berbagai perguruan tinggi ternama se-Malang Raya. Kompetisi ini merupakan edisi perdana dari War Architecture yang diadaptasi dari konsep Clash of Champions oleh Ruangguru, yang terinspirasi dari University War di Korea Selatan.
Tim Arsitektur ITN Malang terdiri dari lima mahasiswa, yakni Yusdihadi Rahawarin, Bara Andana Subagyo, Muhammad Alif Romdhoni, Daniel Galih Saputra, dan Muhammad Hanif Farhan. Yusdihadi Rahawarin, mengaku bahkan harus melewati empat tantangan berbeda dalam kompetisi, dengan jumlah peserta yang bervariasi pada tiap tantangan.
“Tiap tantangan punya jumlah peserta yang berbeda, ada yang tiga orang dan ada yang lima. Nilai dari keempat tantangan digabung, dan Alhamdulillah, kami bisa mengumpulkan 90 poin, unggul 10 poin dari tim lain,” ungkap Yusdihadi, Selasa (10/9/2024).
Tantangan pertama, Memory Madness, menguji kemampuan daya ingat. Tim yang terdiri dari tiga anggota harus menghafal 10 kartu berisi gambar, tulisan, dan tahun dalam waktu dua menit. Strategi yang diterapkan Yusdihadi adalah membagi tugas menghafal masing-masing tiga kartu untuk setiap anggota. Meskipun ada satu kartu yang tidak dihafal, strategi ini membantu meraih 20 poin.
“Tantangan kedua adalah Tebak Warna, yang juga diikuti oleh tiga anggota tim. Dalam tantangan ini, kami berhasil meraih skor tertinggi. Pembelajaran di semester awal terkait sketsa dan warna yang diajarkan dosen ITN sangat membantu dalam menyelesaikan tantangan ini,” jelasnya.

Pada tantangan ketiga, Sketsa Estafet, lima anggota tim membuat ulang sketsa bangunan berdasarkan gambar yang ditunjukkan dalam waktu terbatas, kemudian satu anggota menebak nama bangunan tersebut. Tim ITN Malang berhasil menebak tiga dari empat bangunan, yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN), Taj Mahal, dan Arc de Triomphe, berkat kemampuan sketsa yang diasah sejak semester awal.
“Lalu tantangan terakhir adalah Permainan Puzzle. Tiga anggota tim diberi pertanyaan, dan jika berhasil menjawab, mereka mendapatkan potongan puzzle bertema bangunan neoklasik untuk disusun. Kami telah menguasai seluruh materi, namun tantangan ini lebih menguji kecepatan dan koordinasi tim,” jelasnya.
Menariknya, Muhammad Hanif Farhan, yang merupakan mahasiswa baru angkatan 2024, turut berperan penting dalam kemenangan ini. Hanif, lulusan SMK jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), memiliki dasar pengetahuan arsitektur yang kuat.
Sebelum bergabung dengan ITN Malang, Hanif pernah mengikuti Nata Karya 3.0 yang diselenggarakan oleh Arsitektur ITN Malan. Ia terhubung dengan Bara Andana Subagyo melalui grup WhatsApp.
“Alhamdulillah, meskipun baru bergabung, saya merasa bersyukur bisa ikut berkontribusi dan membawa prestasi bagi ITN Malang,” ujar Hanif.
Keberhasilan tim Arsitektur ITN Malang ini menjadi bukti kualitas pendidikan dan bimbingan yang diberikan oleh dosen-dosen ITN Malang, serta kerja keras dan strategi yang matang dari para mahasiswa. Kompetisi War Architecture ini juga membuktikan bahwa ITN Malang mampu bersaing di level nasional dan terus mencetak prestasi di bidang arsitektur. [dan/aje]






