Surabaya (beritajatim.com) – Masih ingatkah dengan angkutan kota yang pernah menjadi raja jalanan di Surabaya? Kini nasibnya tragis. Mobil dengan plat kuning tersebut mulai ditinggalkan. Dianggap masyarakat ribet, panas, dan tidak memberikan kenyamanan.
Hal tersebut belum cukup, sopir angkutan kota (angkot) atau bemo di Surabaya mengaku sulit mendapatkan penumpang selama pandemi Covid-19. Ditambah dengan beban uji KIR yang juga menelan biaya.
Puluhan angkot terlihat berjajar rapi di dalam Terminal Joyoboyo, LYN berbagai jurusan ada disana pada Rabu, (22/09/2021)siang. Di sana tampak pula, beberapa orang pria yang menunggu penumpang sambil tengah bermain catur dan bercanda di pinggir trotoar.
Salah satu pria yang ditemui tersebut adalah Sukardi Maarif, umur 66 tahun, bekerja sebagai supir angkot JM, jurusan Joyoboyo – Menganti. Ia mengaku sejak pandemi Covid-19, penumpang bemo menurut drastis.
“(Penumpang) menurun banyak, 50 persen, sebelumya pandemi lumayan, (sehari) sampai 100 ribu sampai 150 ribu,” kata Sukardi, di Terminal Joyoboyo, Selasa, 21 September 2021.
Sukardi mengatakan, hal tersebut sudah dirasakan sejak munculnya ojek online. Ia memaparkan, pada hari ini sejak pukul 06.00 WIB hingga 13.00, dirinya belum menarik satu pun penumpang. Ia mengaku bersyukur apabila hari ini pulang hanya membawa uang 20 ribu.
“Saya di sini sejak jam 06.00 WIB belum narik, jam 15.00 WIB berangkat. Sekarang cari uang Rp 50 ribu saja susah, pulang bawa 25 ribu hingga 30 ribu rupiah,” jelasnya.
Sukardi menambahkan, permasalahan para sopir angkot bukan hanya sulit mencari penumpang. Namun, dirinya juga harus tetap membayar uji kelayakan kendaraan atau KIR, pajak kendaraan, hingga perpanjangan SIM dan STNK.
Mengenai uji KIR, para supir angkot tersebut harus rela merogoh kocek sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Uang tersebut mereka keluarkan setiap enam bulan sekali dalam satu tahun.
“Uji KIR sekitar 200 ribu rupiah, itu enam bulan sekali, itu belum trayek, bayar sendiri, izin usaha, STNK, SIM. Tanggungan supir itu banyak,” ucapnya.
Hal tersebut juga dirasakan oleh sopir angkot yang mangkal di Terminal Manukan. Pantauan beritajatim.com di Terminal Manukan, tidak ada aktivitas angkot yang terlihat. Terminal yang dulunya diisi oleh banyak angkot dari berbagai jurusan kini hanya tersisa dua jurusan, yakni jurusan Joyoboyo dan Jembatan Merah Surabaya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kota-surabaya”]
Yoyok (58) salah sopir LYN LMJ mengaku hidupnya kian sulit. Sangking sepinya ia sampai harus mencari kerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup.
“Nda usah nanya di masa pandemi, sebelum pandemi kami wes susah ngadepin ojek online (ojol) itu. Sampean tau kan waktu itu ojek online nggerus penghasilan kami,” Selorohnya.
Ia menjelaskan, kehidupan supir angkot di masa itu saja sudah sangat susah untuk memenuhi setoran. Terlebih lagi di masa pandemi ini. Ia menggambarkan susahnya dengan nilai uang yang harus disetor kepada bosnya.
“Dulu itu kami setor ke juragan Rp 75 ribu untuk satu hari, sekarang kami setor ke juragan itu 30-40 ribu rupiah, itu pun ga nutut, belum beli bensin,” tutup Yoyok. [ang/but]






