Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu presenter cantik Enzy Storia, membagikan perjalanan hidupnya yang penuh lika liku dengan Daniel Mananta melalui kanal YouTube Daniel Mananta Network. Wajah bulenya yang menawan ternyata tidak selamanya membawa keuntungan, ternyata, ia pernah di bully semasa kecil lantern wajahnya yang blasteran.
Wajah bulenya itu ia dapatkan dari sang ayah yang berdarah Polandia, dan ibunya berasal dari Aceh. Bermula dari perceraian kedua orang tuanya dikarenakan perbedaan agama, Enzy mengatakan bahwa sang ibu menginginkannya menjadi seorang muslim dan berkebalikan dengan sang ayah. Kala itu, Enzy masih berusia 6 tahun.
Setelah perpisahan yang menyebabkan wanita berusia 29 tahun tak bisa lagi bertemu dengan ayahnya, Enzy akhirnya tinggal bertiga dengan ibu dan adik tirinya. Kondisi perekonomian yang menurun membuat mereka harus tinggal di rumah kontrakan sederhana.
“Jadi aku sempat banget tinggal di rumah kontrakan, petakan yang di perumahan petakan-petakan gitu lho kak. Kalau aku mau ke sekolah waktu SMA ya aku naik angkot,” ungkap Enzy Storia,
Keadaan itulah yang membuat Enzy sempat merasa malu. Ia bahkan mendapat julukan “Bule Kampung”, membuat ia trauma untuk berbicara dengan Bahasa Inggris. Padahal, sedari kecil ia sudah terbiasa menggunakan Bahasa Inggris. Di perkampungan itu pun ia dijahili, dilempar, di umpat dengan kata-kata yang buruk oleh teman-temannya.
Ternyata, tak hanya merundung Enzy, sang adik pun menjadi korban, Casey Paquita. Banyak orang yang membandingkan fisik Enzy dengan Casey yang jauh berbeda. Perlakuan orang terhadap adiknya pun membuat Enzy sakit hati dan tertekan.
Adik tirinya tersebut merupakan buah cinta ibunya dengan ayah sambungnya. Saat ia berusia 10 tahun, sang ibu menikah lagi. Dara kelahiran 10 Agustus ini pun memiliki hubungan yang sulit dengan ayah sambungnya. Enzy awalnya masih bisa berkomunikasi dengan ayah kandungnya sejak usia 7 tahun, dan ayahnya sudah pindah ke New York hingga ia duduk di kelas 3 SD.
Hubungannya yang kurang baik dengan ayah sambung membuatnya ingin pergi mencari ayah kandungnya dan kembali padanya. Namun ibunya berkata bahwa sang ayah sudah meninggal.
“Jadi aku sebenernya nggak tahu papaku udah meninggal atau nggak. Karena semenjak itu semua berkas, semua akses, semua info tentang dia udah nggak ada. Jadi aku SMP tuh nggak punya akses untuk mencari tahu, ya nggak tahu harus ngapain. Ya itu, aku ancur banget sih karena aku percaya aja. Aku mikirnya Mami ngapain bohong. Papi meninggal kenapa, ‘Kecelakaan.’ Gitu,” ujar Enzy.
Beban berat yang dipikul Enzy sejak usianya masih dini membuat ia sempat berniat mengakhiri hidupnya di usia 9 tahun. Namun niat itu berhasil ia urungkan. Ia mulai bisa menerima keadaan dan bersyukur dengan apa yang dijalaninya. Teman-temannya di masa SMA yang banyak mendukung, dan adiknya yang meskipun berbeda ayah namun membawa arti besar bagi hidupnya. [mnd/esd]






