Mojokerto (beritajatim.com) – Peyek atau rempeyek merupakan penganan favorit bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Terbuat dari tepung beras dilarutkan dengan air dicampur bumbu dan toping kacang tanah atau kedelai, menjadikan peyek sebagai produk panganan favorit, baik untuk camilan maupun lauk menemani makan.
Namun siapa sangka, peyek bisa menjadi sumber rezeki yang menjanjikan. Tidak sedikit orang yang justru menekuni usaha pembuatan peyek sebagai mata pencaharian utama.
Seperti dialami Siti Umaiyah, warga Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Wanita yang akrab disapa Mak Yah ini sukses meraup cuan dari usaha yang diberi nama Peyek Cap Semar.
Dari usaha rumahan ini, Mak Yah bisa meraup omzet Rp20 juta per bulan. Sedangkan nama Semar dipilih sebagai akronim atau singkatan dari “Semoga Jaya Makmur”, doa yang terselip dalam usaha peyek tersebut.
Mak Yah menggeluti usaha Peyek Cap Semar ini bersama sang suami. Kisahnya berawal ketika sang suami kehilangan pekerjaan lantaran tempat kerjanya di pabrik furnitur di Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, tutup pada 2010 lalu.
Baca Juga:
Bupati Mojokerto Beri Pesan Khusus untuk Calon Jemaah Haji
Kondisi tersebut membuat Mak Yah dan sang suami harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Dari situlah, muncul ide untuk membuka usaha produksi rempeyek.
Tiga tahun berjalan, tepatnya di 2013 usahanya mulai berkembang. Peyek Cap Semar mulai kebanjiran pesanan.
Sayangnya pada 2017, pesanan mulai menurun. Ditambah pandemi Covid-19 pada 2020, permintaan peyek produksi Mak Yah sepi.
Namun usahanya tersebut berangsur-angsur pulih seiring dengan terus membaiknya situasi pandemi di Tanah Air. Dibantu tiga karyawan, kini omzet per bulan mencapai Rp20 juta.
“Dulu jualan peyek karena inggin ada perubahan. Sedikit demi sedikit sekarang jadi banyak. Ada tiga warga sekitar, tetangga yang membantu. Ibu-ibu tetangga sekitar,” ungkap Mak Yah, Jumat (16/6/2023).
Mak Yah menjelaskan, bahan pembuatan peyek ada beberapa yakni tepung beras, kanji, telur, minyak dan kacang tanah. Dalam sehari usaha peyeknya menghabiskan bahan dasar tepung beras seberat 10 kg dan kacang tanah 12 kg, dengan pemasaran di sejumlah pasar tradisional.
“Pemasarannya toko pracangan sekitar dan pasar tradisional di Kabupaten maupun Kota Mojokerto dan juga melayani pesanan untuk orang hajatan. Kalau yang dijual eceran atau ke toko pracangan dan pasar kemasan kecil dengan harga Rp7.000 tapi untuk hajatan ada kemasan 1/2 kg sampai 1 kg, harga Rp45 ribu,” katanya.
Mak Yah membuktikan, kegigihan dan kesabaran adalah modal meraih sukses. Pandemi memang menghantam, namun bisa dilalui berkat kesabaran dan semangat pantang menyerah. [tin/beq]






