Magetan (beritajatim.com) – Suroto (67) dan Sujitmiati (59) hanya bisa pasrah saat dagangan dan gerobaknya dipindah oleh Satpol PP dan Damkar Magetan, Selasa (22/2/2022).
Tak mau bersitegang dengan petugas, pasutri yang berjualan kopi di depan Gedung Pelita Sari yang kini jadi Rumah Promosi Industri Kecil Menengah (IKM) Kulit itu pilih mengangkut dagangan mereka ke rumah.
Warung kopi kaki lima milik warga Kelurahan Selosari, Magetan itu dianggap merusak pemandangan rumah promosi yang dibangun megah senilai Rp 1,89 miliar itu. Meski mendapat gerobak baru, mereka bingung karena tak tahu harus berjualan ke mana. Petugas Satpol PP dan Damkar maupun Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat tak memberikan arahan ke mana mereka harus pindah.
Pasutri yang berjualan hampir 36 tahun itu masih harus menghidupi anak dan masih punya tanggungan hutang bank. Sujitmiati mengaku kalau masih memiliki satu tanggungan anak yang masih sekolah. Tak hanya itu, biaya hidup sepanjang hari juga tergantung dari jualannya selama ini.
” Seminggu lalu saya disuruh pindah, padahal sudah sempat masak dagangan banyak. Saat ini kami nganggur, belum ada pemasukan buat bayar anak sekolah dan angsur bank. Kami tidak punya sumber pendapatan lain,” kata Sujitmiati, Kamis (24/02/2022) saat ditemui di rumahnya di lingkungan Jejeruk.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm-magetan”]
Dia menyesalkan tindakan pemerintah yang tak memikirkannya. Menurutnya, pemberian gerobak saja tak akan cukup tanpa diberi arahan di mana dia harus berjualan. Padahal, setiap bulan dia perlu membayar angsuran hampir Rp 1 jt.
” Pemerintah mbok ya mikir peduli sama orang kecil seperti saya ini yang butuh makan, butuh biayai anak sekolah, bayar pinjam bank, bayar listrik bayar air. Terus kalo gak bisa cari penghasilan karena gak dikasih tempat, bayar bank nya gimana. Kalo macet gimana,” ratapnya.

Sujimiati sempat menanyakan alasan kenapa dia harus terusir. Petugas mengatakan kalau Magetan harus bersih. Terlebih jika ada tamu atau kunjungan seluruh trotoar harus steril seluruh pedagang kaki lima harus menyingkir.
” Saya mohon kepada pemerintah untuk memikirkan nasib para pedagang kecil seperti kami yang saat ini tergusur tanpa tempat lagi. Saat ini tidak dapat mencari nafkah untuk menyambung hidup. Saat ini jaman lagi sulit ekonomi juga seret akibat wabah corona,” katanya. (ted)






