Surabaya (beritajatim.com) – Mengenakan kerudung krem dan kemeja putih, Izzah Ananta berdiri di antara ratusan orang di aula Kantor Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Kamis (7/8/2025). Padahal, Izzah bukan mahasiswa dari kampus tersebut.
Izzah adalah lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang, angkatan 2021 yang baru saja menyelesaikan studinya pada tahun ini. Gadis yang telah meraih gelar Sarjana itu sengaja datang jauh-jauh dari Ponggok, Kabupaten Blitar, ke Surabaya demi satu hal, pekerjaan.
“Aku datang ke career fair ini buat cari informasi-informasi tentang pekerjaan,” ujar Izzah kepada beritajatim.com.
“Sekarang lagi cari kerja di sektor perbankan. Karena memang kita tertarik untuk interview yang disediakan di career fair UT,” tambahnya.
Perjalanan dari Blitar ke Surabaya mungkin bisa ditempuh sekitar 4 jam, tapi jalan menuju pekerjaan yang sesuai jurusan dan skill, jauh lebih panjang. Izzah mengaku sudah melamar kerja lebih dari ratusan kali sejak dinyatakan lulus. “Tidak terhitung,” ujarnya.
Ia menyadari bahwa mencari kerja tidak sekadar soal jumlah lowongan, tetapi lebih kepada kecocokan dengan bidang ilmu, pengalaman, hingga keterampilan. “Sebenarnya lowongan banyak, tapi cocok-cocokan. Sama jurusan, sama pengalaman, sama skill,” katanya.
Harapannya sederhana. Izzah rela menempuh ratusan kilometer agar mendapat pekerjaan layak.
“Ikut career fair ini semoga bisa menemukan pekerjaan yang cocok dengan kualifikasi dan skill yang saya punya,” tuturnya.
Career Fair UT Surabaya yang diikuti 40 perusahaan ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Bursa kerja ini menjadi ajang rekrutmen sekaligus mempererat koneksi antara perguruan tinggi dengan dunia industri.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, menyebut acara ini sebagai kolaborasi konkret antara dunia pendidikan dan pemerintah untuk menekan angka pengangguran terbuka.
“Terima kasih kepada Universitas Terbuka. Ini kolaborasi yang baik. Harapannya, tidak hanya UT saja, tetapi semua kampus dan SMK juga bisa menggelar acara serupa,” ujar Agus Hebi.
Menurutnya, angka pengangguran terbuka di Surabaya masih cukup signifikan, yakni 4,91 persen tahun lalu. “Sekarang masih kami hitung. Karena lulusan SMK juga banyak. Tapi kami terus koordinasi dengan BLK dan lembaga pelatihan untuk menampung lulusan yang belum terserap,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, menyampaikan bahwa dari sekitar 672 ribu mahasiswa aktif UT secara nasional, sebanyak 87 persen di antaranya adalah pekerja aktif.
Mereka kuliah di UT untuk meningkatkan karier dan kompetensi. Hanya sekitar 13 persen saja yang belum bekerja. “Tracer study kami menunjukkan tingkat keberhasilan mahasiswa memperoleh pekerjaan, peningkatan karir dan gaji itu sangat baik,” katanya.
Ke depan, UT akan menggelar career fair semacam ini setiap tahun secara bergilir di berbagai kota, dengan memanfaatkan jaringan 40 kantor cabang UT daerah. “Tahun ini di Surabaya, tahun depan di kota lain,” ungkapnya.
Namun, di balik upaya pemerintah dan kampus menekan pengangguran, tetap ada sarjana muda yang berjuang keras di lapangan. Izzah adalah salah satunya. Berangkat dari Blitar ke Surabaya demi mendapatkan peluang kerja.
Bagi Izzah, semua langkah ini adalah bagian dari perjalanan. Meski lulusan dari kampus ternama, ia memilih hadir langsung ke job fair UT di Surabaya. Karena dia tahu bahwa kesempatan kadang memang harus dijemput, bukan hanya dinanti saja. [ipl/beq]






