Malang (beritajatim.com) – Prestasi akademik tertinggi tak selalu lahir dari fasilitas mewah. Hal itu dibuktikan oleh dua lulusan terbaik Institut Teknologi Nasional Malang pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026.
Di balik toga dan predikat cumlaude, Marita Putri Nabila dan Dwi Apink Dela Nesfian menyimpan kisah perjuangan serupa: membagi waktu antara kuliah dan membantu ekonomi keluarga.
Keduanya dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Teknologi Industri (FTI). Marita merupakan lulusan S-1 Teknik Informatika, sementara Apink berasal dari S-1 Teknik Industri. Mereka dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu (25/4/2026).
Marita mencatatkan IPK 3,91 dalam waktu 3,5 tahun. Namun di balik capaian itu, kesehariannya diwarnai aktivitas membantu orang tua berjualan cireng isi, cilor, hingga es degan di area parkir GOR Gajahmada.
“Semester satu sampai pertengahan semester lima itu saya masih pakai laptop lama yang sering ngadat. Padahal anak informatika butuh spek tinggi. Akhirnya saya dan orang tua pelan-pelan menabung sampai bisa beli laptop baru,” kenangnya, Sabtu (18/4/2026).
Dari pengalaman tersebut, Marita mengembangkan skripsi berupa sistem rekomendasi referensi jurnal menggunakan metode Cosine Similarity dengan tingkat akurasi mencapai 88,89 persen. Inovasi ini lahir dari keresahannya melihat mahasiswa kesulitan mencari referensi penelitian.
Sementara itu, Apink lulus dengan IPK 3,78. Bagi mahasiswi asal Jember ini, gelar sarjana menjadi bentuk pemenuhan janji kepada almarhum ayahnya yang wafat pada 2019.
Sebagai anak petani palawija, Apink tidak hanya fokus akademik, tetapi juga aktif sebagai Koordinator Asisten Laboratorium yang membawahi empat laboratorium di kampusnya.
Menariknya, ia menerapkan ilmu teknik industri untuk mengembangkan usaha keluarga berupa peternakan ayam broiler di Jember. Dalam risetnya berjudul “Optimasi Industri Peternakan Ayam Broiler di UD Sumber Urip”, Apink menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Linear Programming.
“Saya menemukan manajemen pakan dan kepadatan kandang memiliki risiko tertinggi terhadap kualitas ternak. Lewat ilmu dari kampus, saya ingin usaha keluarga ini bisa berkelanjutan dan hasilnya lebih optimal,” tegas alumnus SMA Negeri Balung tersebut.
Kisah keduanya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Marita memanfaatkan logika pemrograman untuk mempermudah riset akademik, sementara Apink mengaplikasikan ilmu industri untuk meningkatkan kualitas usaha keluarga.
Kini, dengan gelar sarjana di tangan, keduanya bersiap melangkah ke dunia profesional dengan bekal pengalaman dan inovasi yang telah mereka bangun sejak bangku kuliah. [dan/beq]







