Malang (beritajatim.com) – Pembunuhan driver online Apris Fajar Santoso (29), warga Desa Clumprit, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, oleh dua orang penumpangnya, jadi perbincangan luas. Peristiwa itu membuat Agus Purwoko (66) teringat peristiwa kelam yang pernah dialami ketika menjadi sopir taksi.
“Sebelum ada kendaraan online, saya adalah bekas sopir taksi Argo Mandala. Saya pernah ditodong pisau oleh tiga pria yang menumpang taksi saya. Kejadiannya malam hari. Saya dibuang di hutan Druju kawasan Sumbermanjing Wetan, Malang Selatan. Saya diborgol menggunakan tali telepon,” kenang Agus, Jumat (9/6/2023) siang ditemui beritajatim.com.
Agus Purwoko adalah Ketua Online Malang Selatan (OMS). Menurut Agus, pria yang tinggal di Pakisaji, Kabupaten Malang itu, OMS adalah komunitas Driver online di Kabupaten Malang. Jumlah anggotanya ratusan orang pengemudi mobil online.
“Mas Apris adalah anggota saya di OMS. Mas Apris orang yang baik, ramah dan supel orangnya. Kami tak menduga akan seperti ini kejadiannya,” kata Agus.
Agus bercerita, dulu kisaran tahun 2000, ia pernah mendapatkan penumpang tiga orang laki-laki yang baru pulang dari diskotek yang ada di Kota Malang. Penumpang tersebut minta diantar ke kawasan Ngijo, Karangploso, Malang.
“Sampai Ngijo saya ditodong pisau di bagian leher. Saya diancam akan dihabisi, tangan saya kemudian diikat menggunakan tali telepon yang ada di taksi,” paparnya.
BACA JUGA:
Pembunuhan Driver Online, Istri Sempat Video Call Sebelum Korban Hilang
Sadar posisinya terancam, Agus pun ingat jika dirinya juga pernah mendapatkan penumpang seorang residivis kelas kakap. Dari pengalaman itulah, Agus mengatakan pada ketiga penumpang agar seduluran saja.
“Saya bilang begini, sedulur ae lah mas (kekeluargaan saja ya mas-red). Saya hanya cari makan, dan ternyata itu manjur loh. Kata-kata itu ternyata sandi atau pasword bagi pelaku kejahatan jika dirinya sama-sama orang jalanan yang hanya mencari makan di jalan,” ujar Agus.
Setelah mengucapkan kata kata seduluran, tiga pria penumpang taksi Agus menjadi luluh hati. Todongan pisau dijauhkan dari lehernya. Ikatan tali pada tangannya juga dikendorkan. Agus kemudia dibawa tiga pelaku yang merampok taksinya, ke arah hutan Druju, Malang Selatan.
“Saya diturunkan di Druju waktu itu. Saya disuruh jalan dan lari keluar dari mobil. Tiga perampok itu tidak melukai saya, bahkan tali ikatan juga dikendorkan. Saya kemudian minta tolong orang pencari rumput, kemudian lapor ke polisi,” kenang Agus.
BACA JUGA:
Mayat Driver Taksi Online Asal Malang Ditemukan di Hutan Piket Nol Lumajang
Menurut Agus, risiko seorang driver online cukup besar. Ia juga selalu mewanti-wanti anggotanya dalam komunitas OMS untuk selalu berdoa sebelum bekerja. Selalu hati-hati dan waspada selama di jalan.
“Kami tidak pernah tahu tujuan dari penumpang. Yang bisa kami lakukan ya hanya waspada, gelagat orang itu bisa dilihat dari gerak geriknya. Kalau selama dalam perjalanan gelagat penumpang mencurigakan, sebaiknya cari posisi aman,” tuturnya.
Agus menambahkan, mengaca pada kejadian kawan kerjanya dalam komunitas OMS, Agus selalu bilang agar mengirimkan shareloc posisi kendaraan pada grup dengan durasi waktu 8 jam. Dengan begitu, rekan driver yang lainnya bisa memantau pergerakan mobil sekaligus pengemudinya.
Agus berharap, pelaku pembunuh driver online dihukum mati. “Kami ingin perbuatan pelaku diganjar setimpal dengan hukuman mati. Kami juga berpesan pada seluruh driver online di Malang agar tetap tegar, selalu hati hati dalam menerim order dari penumpang. Apabila ragu-ragu, lebih baik dicancel saja. Karena trafik atau point yang di dapat dari operator, tidak sebanding apabila harus kehilangan nyawa,” Agus mengakhiri. [yog/but]






