Jombang (beritajatim.com) – Di tengah riuh persiapan Lebaran, suasana di sebuah sudut Jombang, Jawa Timur, justru diwarnai antrean panjang warga yang tertib, Minggu (23/3/2025) sore. Lansia, ibu-ibu, hingga remaja dengan sabar menunggu giliran di halaman rumah Candra Iwanto.
Pria berusia 60 tahun itu akrab disapa Pak Cing, pengusaha minyak keturunan Tionghoa yang telah 32 tahun menjadi “penjaga tradisi” berbagi sembako setiap Ramadan. Tak terkecuali di tahun 2025 ini, ketika 550 paket berisi beras, gula, tepung, dan minyak goreng kembali dibagikannya.
Kisah kepedulian Candra dimulai tiga dekade silam, saat ia baru merintis usaha kecil-kecilan. “Dulu, saya hanya bisa menyisihkan 50 paket. Tapi bagi saya, berbagi tak perlu menunggu kaya. Yang penting ikhlas*” ujarnya, mengenang awal mula tradisi ini. Kini, meski bisnisnya telah berkembang, semangatnya tak berubah: setiap Ramadan, pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa pun.
Antusiasme warga terlihat jelas. Titin (52), salah satu penerima, bercerita, “Sejak anak saya masih TK, sudah menerima bantuan ini. Kini cucu saya lahir, Pak Cing tetap setia berbagi.”
Bagi warga, sembako itu bukan sekadar bantuan materi, melainkan simbol kebersamaan yang mengikis sekat agama dan etnis.
Bagi Candra, ritual tahunan ini adalah ziarah rasa syukur. “Ini kewajiban hati. Saya dibesarkan di sini; tetangga-lah yang dulu membantu saya saat kesulitan,” tuturnya sambil menyusuri barisan warga yang menyapanya bak keluarga. Visinya pun melampaui diri sendiri: “Semoga anak-cucu saya teruskan ini. Berbagi adalah warisan terbaik.”
Tak hanya sembako, pria rendah hati ini aktif membiayai pendidikan anak kurang mampu dan memperbaiki infrastuktur kampung.
Kepala Desa setempat, Ahmad Farid, menyebutnya, “Ia bukti nyata bahwa gotong royong tak kenal agama. Jombang bangga memiliki sosok seperti Pak Cing.”
Di tengah hiruk-pikuk zaman, kisah Candra Iwanto bagai oase. Dari 550 paket sembako, ia menabur benih toleransi yang tumbuh subur dalam sanubari warga. Seperti kata seorang pemuda yang antre, “Di sini, kami tak mengenal ‘Cina’ atau ‘pribumi’. Yang ada hanya Pak Cing, saudara yang selalu ingat kami.”
Tradisi 32 tahun ini bukan sekadar angka—ia adalah episode panjang tentang bagaimana kedermawanan bisa menjadi jembatan, merajut kebhinekaan dalam balutan kesederhanaan. Dan selama tangan-tangan seperti Candra masih terbuka, harapan akan Indonesia yang rukun takkan pernah pupus. [Suf]






