Jombang (beritajatim.com) – Sebanyak 3.000 peserta mengikuti kirab dalam rangka Hari Santri, yang berlangsung sejak siang hingga sore hari, Rabu (22/10/2025). Peserta yang terdiri dari pengurus MWCNU Diwek, pengurus ranting, lembaga, dan badan otonom NU memulai perjalanan mereka dari kantor MWCNU Diwek menuju Pesantren Tebuireng.
Kirab ini tidak hanya sebagai bentuk peringatan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Rute kirab ini menyusuri jalur utama Jombang-Malang, yang menyebabkan kemacetan parah sepanjang perjalanan. Di tengah hiruk pikuknya kirab, peserta membentangkan bendera merah putih raksasa sepanjang 100 meter, yang menjadi simbol persatuan dan kebanggaan nasional.
Bendera dengan lebar empat meter ini, menurut ketua panitia Hasib Al-Isbily, dibawa oleh pasukan khusus yang dipimpin oleh Ketua PAC GP Ansor Diwek, Asbabul Ulum. “Lebarnya bendera merah putih raksasa empat meter,” ujar Hasib Al-Isbily.
Ia juga mengungkapkan bahwa bendera ini merupakan bendera yang sama seperti yang dibawa dalam kirab tahun lalu, namun dengan jumlah peserta yang lebih ramai pada tahun ini.
Selain kirab, berbagai pertunjukan juga mewarnai acara tersebut. Ketua Ranting NU Desa Watugaluh, Muhammad Sulthon, menjelaskan bahwa rombongan yang dibawanya terdiri dari berbagai kelompok, mulai dari grup drumband MI Al-Qosimy hingga santri Pondok Falahul Muhibbin.
Ia menambahkan bahwa Muslimat dan Fatayat juga ikut berpartisipasi dengan menampilkan pertunjukan patrol, sementara santri pondok menampilkan lalaran. “Mulai dari grup drumband MI Al-Qosimy sampai santri Pondok Falahul Muhibbin,” ujarnya.
Selain itu, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama. Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Diwek, Muhammad Afifuddin, memastikan bahwa pihaknya menyiapkan satu mobil ambulans dan beberapa personel medis untuk menjaga kesehatan para peserta kirab.
Sesampainya di Pesantren Tebuireng, peserta kirab disambut hangat oleh jajaran pengurus pondok, termasuk kepala pengurus pondok, Slamet Habib, mudir pondok, KH Lukman Hakim, serta KH Reza Yusuf, cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Kehadiran mereka semakin mempertegas semangat persatuan dan kebersamaan dalam merayakan Hari Santri.
Kirab ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari upaya mempererat silaturahmi dan meningkatkan kerukunan di kalangan warga NU. Sebagaimana yang disampaikan oleh KH Hamdi Sholeh, Ketua MWCNU Diwek, “Karena itulah modal kita mengembangkan organisasi NU yang kita cintai ini.” [suf]






