Banyuwangi (beritajatim.com) – Pesantren Lateng Banyuwangi saksi bisu terbentuknya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Nahdlatul Ulama (NU). Badan otonom NU ini diklaim memiliki keanggotaan terbesar dalam organisasi kepemudaan di dunia.
Lalu siapa sebenarnya pendiri Pesantren Lateng Banyuwangi yang memiliki historis panjang ini. Ya, dia adalah Kiai Saleh Syamsudin atau biasa dikenal Kiai Saleh Lateng.
Dia memiliki nama kecil yaitu Ki Agus Muhammad Saleh bin Ki Agus Abdul Hadi atau anak dari Ki Agus Abdul Hadi.
Kiai Saleh Lateng salah satu ulama ternama di Banyuwangi yang gesang antara 1864-1952. Semasa hidup, dia dikenal sebagai seorang intelektual terkemuka dan juga aktivis-pejuang yang gigih.
Kiai Saleh Lateng juga termasuk salah satu pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU), bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan beberapa kiai lainnya di penjuru Nusantara. Bahkan pernah menjadi Mustasyar PBNU pada 1928.
“Selain kiprahnya yang luar biasa, Kiai Saleh juga memiliki koleksi kitab yang menakjubkan,” ujar Founder Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro, Kamis (13/7/2023).
Baca Juga: Persewangi Banyuwangi Butuh Manajemen Bagus demi Prestasi
Sejarah lain, Kiai Saleh Lateng juga memiliki sejumlah karya dan koleksi kitab kuno. Hingga kini, kitab-kitab tersebut masih tersimpan rapi di Pesantren Lateng Banyuwangi.
Di antaranya, dari naskah kuno, kitab ulama Nusantara dan sejumlah kitab yang memiliki parateks bernilai sejarah dan mengandung pengetahuan. Termasuk, Dalam koleksinya terdapat Babad Tawangalun beraksara pegon ataupun naskah-naskah yang berasal dari Kesultanan Palembang.
Dari data lain menampilkan, kisah Kiai Saleh Lateng Banyuwangi yang penuh perjuangan. Dia merupakan santri dari ulama besar dari Bangkalan, Madura yakni Syaichona Kholil.
Pernah pula menimba ilmu di tanah suci Makkah. Namun, kemudian menetap di Kampung Mandar, Lateng, Banyuwangi untuk meneruskan dan mengabdikan ilmunya.
Baca Juga: Pertamina dan Eni Resmi Kelola Wilayah Kerja Peri Mahakam
Kiai Saleh Lateng juga ikut dalam pergerakan semasa penjajahan Belanda. Termasuk mengawal kemerdekaan Republik Indonesia.
Kiai Saleh Lateng wafat pada malam Rabu, 29 Dzulqo’dah 1371 H/ 20 Agustus 1952 pada usia 93 tahun. Jenazahnya disemayamkan di samping tempatnya mengajar para santri.
Kini, warga Banyuwangi mengenangnya sebagai sosok pahlawan di daerahnya. Sebagai tanda itu, pemerintah setempat melalui DPRD Banyuwangi tahun 1956, memutuskan nama KH Saleh Lateng sebagai nama jalan. (rin/ted)






