Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), KH Asep Saifuddin Chalim, menegaskan bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai kurang patut jika belum mampu memperjuangkan KH Hasan Gipo (Ketua Umum PBNU pertama) sebagai Pahlawan Nasional.
Pernyataan tegas ini disampaikan Kiai Asep yang juga Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet dalam acara Haul KH Hasan Gipo yang dihelat di Langgar Gipo, Jalan Kalimas Udik, Surabaya, Kamis (24/9/2026) malam.
Dalam pidatonya, Kiai Asep mengenang kembali masa-masa sulit saat NU didirikan pada tahun 1926 di bawah pengawasan dan tekanan ketat pemerintah kolonial Belanda, di mana setiap upaya kemerdekaan selalu ditumpas. Sejak awal, orientasi utama pendirian NU adalah mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Gerakan tersebut dikemas menggunakan paham mudaro—sebuah pendekatan yang merangkul semua pihak secara inklusif dengan semangat rahmatan lil ‘alamin. Paham inilah yang menjadi fondasi di pesantren-pesantren para pendiri NU.
”Jadi, Nahdlatul Ulama didirikan oleh kiai-kiai dan ulama-ulama pesantren, yang dibantu oleh kader-kader dari Nahdlatut Wathon,” ungkap Kiai Asep, menjelaskan asal-usul penamaan NU yang diusulkan oleh Kiai Mas Alwi.
Kiai Asep juga menggarisbawahi peran besar para ulama pesantren yang didukung oleh para konglomerat saleh (al-agniya’ as-shalihiin asy-syaakiriin). Stabilitas finansial dan perkembangan awal NU sangat ditopang oleh ketulusan harta halal dari para tokoh utamanya, seperti Ketua Umum KH Hasan Gipo dan Bendahara Muhammad Burhan.
”Al-ikhlas fil amal kar-ruh fil jasad. Ikhlas dalam berbuat itu bagaikan tubuh yang memiliki nyawa, yang mampu menghasilkan produk dan membesarkan organisasi tanpa dukungan pemerintah kolonial,” tegasnya.
Menutup pesannya, Kiai Asep berpesan agar kebesaran pemikiran, orientasi pengabdian, dan ketulusan para pendiri NU tidak dikotori oleh praktik-praktik transaksional atau kecurangan. Beliau mengingatkan agar nilai-nilai luhur organisasi senantiasa dijaga demi kemaslahatan umat dan bangsa. (tok/ted)






