Ringkasan Berita:
- Gubernur Khofifah memimpin Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Madiun.
- Jawa Timur menegaskan posisi sebagai lumbung pangan nasional berkelanjutan.
- Produksi padi Jatim 2025 mencapai 10,44 juta ton GKG, naik 12,6 persen.
- Modernisasi pertanian dan regenerasi petani muda menjadi fokus utama.
Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memimpin Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat (8/5/2026), sebagai langkah strategis memperkuat posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional sekaligus pilar utama kedaulatan pangan Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jatim dalam menjaga produktivitas pertanian berkelanjutan di tengah tantangan global, perubahan iklim, dan dinamika ketahanan pangan dunia.
“Tidak sekedar bagaimana kita memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tapi juga kita ingin menjadi bagian yang bisa membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan tapi berkedaulatan pangan berkelanjutan,” tegas Khofifah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Jawa Timur mencatat luas panen sebesar 1,84 juta hektare dengan produksi padi mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 9,77 juta ton.
Sementara potensi produksi padi periode Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG atau naik sekitar 5,28 persen dibanding periode sama tahun lalu.
“Ini artinya produktivitas pertanian Jawa Timur tetap tumbuh positif dan resilien di tengah berbagai tantangan global dan perubahan iklim,” ungkap Khofifah optimistis.
Menurut Khofifah, surplus produksi padi dan beras Jawa Timur tidak hanya penting untuk pemenuhan pangan nasional, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas pertahanan dan keamanan negara.
Ia bahkan menilai surplus beras Jatim berpotensi menopang kebutuhan hingga tahun depan serta membuka peluang ekspor beras ke pasar internasional.
Untuk memperkuat capaian tersebut, Khofifah menekankan pentingnya modernisasi alat dan mesin pertanian (Alsintan), seperti transplanter, rotavator, drone sprayer, hingga combine harvester.
Modernisasi ini dinilai semakin relevan karena Jawa Timur memiliki jumlah petani muda terbesar di Indonesia.
“Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda sehingga mereka tidak semua ke kota, tapi mereka juga menjadi bagian dari penguat sektor pertanian,” katanya.
Pemprov Jatim juga telah menyiapkan lima strategi utama memperkuat kedaulatan pangan berkelanjutan, mulai dari percepatan tanam pascapanen, penggunaan benih unggul tahan kekeringan, optimalisasi alsintan, pola tanam adaptif berbasis teknologi, penguatan irigasi, hingga sistem pelaporan cepat bencana dan serangan hama.
“Panjenengan semua ini para pahlawan-pahlawan pangan yang luar biasa,” ujar Khofifah kepada petani dan kelompok tani.
Plh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Tin Latifah, menyebut Jawa Timur telah berkontribusi signifikan terhadap target nasional luas tanam dengan capaian 238 ribu hektare hingga Mei 2026.
Sementara Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menegaskan kesiapan daerahnya menjaga surplus beras Jawa Timur melalui penguatan produktivitas petani lokal.
Sebagai bagian dari dukungan konkret, Pemprov Jatim juga menyerahkan bantuan Alsintan berupa hand traktor, cultivator, combine harvester, dan rotavator kepada kelompok tani di Kecamatan Balerejo.
Langkah ini menegaskan peran strategis Jawa Timur sebagai penggerak utama produksi pangan nasional sekaligus fondasi penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia secara berkelanjutan. [tok/beq]








