Banyuwangi (beritajatim.com) – Sebanyak 29 jurnalis ikuti uji kompetensi wartawan (UKW) yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur dan Solopos Institute di Hotel Mirah Banyuwangi, Jumat (5/10/2021). Mulai dari tingkat Muda, Madya, hingga utama. Sebelum UKW dimulai, Wenseslaus Manggut, Ketua AMSI Pusat berikan beberapa arahan.
Salah satunya mengharapkan jurnalis bisa mengembalikan fungsi jurnalisme yangs sesuai dengan rel. Yakni memberikan konten original dan berkualitas untuk publik. UKW jadi salah satu syarat untuk kembalikan fungsi jurnalisme.
”Tugas kita mengembalikan ke jalur normal agar ada insentif bagi yang membuat konten yang bagus. Mulai dari AMSI hingga Dewan Pers, rel industri bisa masuk ke jalur yang normal,” kata Wenseslaus via zoom meeting dalam pembukaan acara UKW, Jumat (5/11/2021).
Dia menerangkan bahwa kini konten receh justru memiliki engagement yang bagus di masyarakat. Sementara, konten yang berkualitas justru ditinggalkan. Padahal secara substansi sebenarnya bisa digunakan untuk rujukan bagi masyarakat untuk bertindak.
”Penelitian terkini dari New York University konten yang beredar di platform digital sama derajatnya dari sisi bisnis dengan formulasi ekosistem sekarang. Konten hoax dan hate speech punya engagement tujuh sampai delapan kali dari pada berita yang relevan. Celaka jika konten receh, kebencian, dan hoax seksi secara bisnis,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”amsi”]
Dia menegaskan Dewan Pers dan AMSI sudah memulai mengembalikan jalur yang benar. Yakni mencoba membuat regulasi yang bisa melindungi publik. Banyak regulasi untuk mengatur rekan di platform. Dengan begitu, industri media tak jadi receh, jurnalisme harusnya jadi rujukan masyarakat untuk bertindak
”Tugas kita saat ini yakni memulangkan jurnalisme ke jalan semula. Agar ada insentif bagi pembuat konten berita yang berkualitas dan original. Karena efeknya bukan hanya itu saja, tapi demokrasi juga memperburuk demokrasi jika konten receh dibiarkan merajalela,”’ katanya. (fiq/ted)






