Malang (beritajatim.com) – Saat Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) XIII, Ketua Umum Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) Pusat, Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., menegaskan bahwa acara ini memiliki misi yang jauh lebih besar dari sekadar pertemuan akademik. Menurutnya, konferensi ini adalah sebuah forum strategis yang dirancang untuk menghasilkan sebuah dokumen fundamental bagi masa depan bahasa Indonesia.
“Luaran utama dari konferensi ini adalah perumusan rekomendasi,” ungkap Prof. Gatut saat diwawancarai di sela-sela acara di Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (11/9/2025).
“Hasil pemikiran para akademisi, praktisi, dan para pegiat BIPA yang berkumpul di sini akan kami rumuskan secara konkret. Rumusan inilah yang nanti akan kami sampaikan kepada pihak pemerintah dan para pemangku kepentingan.”
Dokumen ini, lanjutnya, akan berfungsi sebagai peta jalan atau cetak biru yang memberikan arah jelas tentang bagaimana pengembangan BIPA seharusnya melangkah di masa depan.
“Ini adalah cara kami, melalui forum akademik, untuk memberikan masukan strategis. Termasuk di dalamnya, kami juga akan merumuskan rekomendasi internal untuk menentukan skala prioritas dan langkah kerja APPBIPA ke depan,” tegasnya.
Untuk menghasilkan rekomendasi yang berbobot, Prof. Gatut menjelaskan bahwa APPBIPA, sebagai penyelenggara utama yang bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang dan didukung penuh Badan Bahasa, telah mengundang para pemikir terbaik di bidangnya.
“Untuk pembicara utama saja, ada 12 orang. Empat di antaranya adalah pakar internasional ternama: Prof. George Quinn dari Australia, Prof. Koh Young Hun dari Korea Selatan, Prof. Habib Zarbaliyev dari Azerbaijan, dan Prof. Ellen Raferty dari Wisconsin, Amerika Serikat,” rincinya.
Pembicara utama dari dalam negeri pun tak kalah mumpuni, termasuk Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, Prof. Dr. Liliana Muliastuti dari UNJ, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta dirinya sendiri selaku Ketua APPBIPA.
Kekuatan intelektual ini diperkaya oleh 57 pemakalah yang hadir secara luring dan sekitar 30 pemakalah lainnya yang bergabung secara daring. Tak hanya itu, puluhan mahasiswa asing dari berbagai negara turut hadir sebagai peserta undangan untuk menyerap ilmu.
“Mahasiswa asing yang hadir, seperti 10 orang dari Amerika, serta dari Thailand, Pakistan, Mesir, dan Taiwan, adalah mereka yang sedang kursus bahasa Indonesia di UM. Mereka kami undang agar bisa melihat langsung ekosistem keilmuan BIPA,” jelas Prof. Gatut.
Harapan Besar untuk Inspirasi dan Kolaborasi
Saat ditanya mengenai harapan dari penyelenggaraan KIPBIPA ke-13 ini, Prof. Gatut memiliki dua tujuan utama: inspirasi dan kolaborasi.
“Harapan pertama, tentu agar konferensi ini berjalan lancar dan sukses. Para akademisi dan praktisi dapat saling bertukar pikiran dan pengalaman, sehingga satu sama lain saling menguatkan,” ujarnya.
Ia memimpikan sebuah ekosistem di mana institusi penyelenggara BIPA yang sudah mapan dapat menjadi inspirasi dan role model bagi institusi-institusi yang baru akan memulai. Menurutnya, forum seperti KIPBIPA adalah jawaban atas kebuntuan informasi.
“Jujur saja, kami belum punya data yang pasti kampus mana saja yang baru mau membangun program BIPA. Nah, lewat konferensi seperti inilah mereka punya kesempatan bertanya langsung kepada para senior dan kampus yang sudah lebih dulu melaksanakan program BIPA,” katanya.
“Harapan kedua, ladalah terjalinnya kolaborasi yang erat, baik antar institusi penyelenggara BIPA maupun antar pribadi pengajar dan pegiat BIPA. Inilah pondasi untuk menguatkan gerakan kita bersama,” jelas Prof Gatut menutup. (dan/but)






