Almost Is Never Enough. Judul single dari Ariana Grande yang dirilis 12 tahun itu sangat relate dengan Serie A di Liga Champions saat ini. Di satu sisi bangga dengan pencapaian Inter Milan dua kali lolos final Liga Champions dari tiga musim terakhir. Tetapi di sisi lainnya justru terasa bak aib.
Ya, di dua kesempatan itu Nerazzurri selalu jadi pecundang. Di final 2023 mereka dikalahkan Manchester City 0-1. Bulan lalu, giliran Paris Saint-Germain yang menghajar mereka lima gol tanpa balas.
Ironisnya, dua kekalahan itu membuat Inter melahirkan juara baru. City dan PSG belum pernah juara sebelumnya. Prestasi terbaik adalah runner-up. City di final 2021 dan PSG setahu sebelumnya.
Misi Serie A untuk mengembalikan reputasi mereka kembali gagal. Runner-up tidak akan pernah dikenang. Kecuali kekalahan memalukan seperti 0-5 dari Les Parisiens.
Musim ini, Serie A kembali meretas jalan menuju kejayaan yang lenyap di 15 tahun terakhir. Treble winners Inter bersama Jose Mourinho musim 2009–2010 jadi kali terakhir tim Serie A berjaya di Eropa.
Cara yang ditempuh untuk itu apa lagi kalau bukan mendatangkan pemain bintang. Sayangnya, bintang yang didatangkan bisa dibilang telah kedaluwarsa. Ya, Luka Modric ke AC Milan dan Kevin De Bruyne ke SSC Napoli.
KDB–julukan De Bruyne–kini berusia 34 tahun. Modric bahkan bakal berusia 40 tahun per 9 September mendatang. Apalagi, Rossoneri juga masih absen di Liga Champions musim ini.
Secara kualitas fisik, mereka berdua pasti tak seperti 5 hingga 10 tahun lalu. Tetapi, untuk urusan jam terbang di Liga Champions, mereka jagonya.
De Bruyne total tampil di 4 semifinal Liga Champions dengan 2 di antaranya ke final dan sekali jadi juara. Modric lebih dahsyat. Dari 13 musim bersama Real Madrid, 10 di antaranya berhasil ke semifinal yang berujung 6 final. 6 final tersebut juga bablas dimenangi.
“Modric sangat krusial. Dia akan meningkatkan kualitas kami. Dia juara sejati,” papar allenatore ACM Massimiliano Allegri dilansir beIN Sports.
Personel veteran bukan jaminan gagal bersaing. Yang dilakukan Inter di tiga musim terakhir bisa jadi rujukan. Pemain-pemain dengan usia di atas kepala 3 seperti Francesco Acerbi, Matteo Darmian, Henrikh Mkhitaryan, Hakan Calhanoglu, dan Yann Sommer masih jadi andalan hingga kini.
Bukti lainnya tersaji oleh Rossoneri ketika memenangi Liga Champions ketujuh mereka musim 2006–2007. Hanya Kaka, Andrea Pirlo, dan Gennaro Gattuso yang berusia di bawah 30 tahun saat jadi starter di final melawan Liverpool FC. Rerata usia skuad ACM kala itu adalah 27,9 tahun. Itu berasal dari rerata usia lini belakang di 29,3 tahun, lini tengah 25,4 tahun, dan lini depan 28,5 tahun.
“Dia (De Bruyne, Red) tidak perlu diragukan. Dalam beberapa tahun terakhir dia gelandang terbaik. Aku melihatnya cepat beradaptasi dan kami bahagia memilikinya,” papar allenatore Napoli Antonio Conte.
Mungkin, efek kehadiran Modric dan De Bruyne baru akan terasa pada musim kedua. Tetapi, fondasi untuk hegemoni Liga Champions telah mereka letakkan demi debut juara Partenopei atau titel kedelapan Rossoneri. (dio)






