Jombang (beritajatim.com) – KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenakan kemeja motif batik dan bercelana biru dongker. Tangannya memegang seuntai tasbih. Gus Dur duduk bersila di atas sesisir pisang warna kuning. Di sekelilingnya terdapat kupu-kupu bercirak indah. Juga terdapat gambar kabah.
Itulah lukisan hasil karya Sugeng Hartobi dari Komunitas Pelukis (Kopi) Jombang. Lukisan tersebut menyita perhatian pengunjung dalam pameran lukisan yang digelar di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang, Jumat (28/10/2022). Tak terkecuali Bupati Jombang Mundjidah Wahab juga mengagumi lukisan beraliran realis dekoratif itu.
Tobi, panggilan akrab Sugeng Hartobi, menyelesaikan lukisan tersebut dalam waktu empat hari. Ketika sudah kelar, lukisan di atas kanvas berukuran 1×1 meter tersebut dibawa ke aula Disdikbud Jombang untuk diikutkan pameran bertema ‘Unity’ itu. Bukan pertama kali Tobi melukis tokoh NU (Nahdaltul Ulama). Sebelumnya, dia juga pernah melukis pendiri NU KH Wahab Chasbullah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”gus-dur”]
“Seblumnya saya pernah melukis pendiri NU Kiai Wahab Chasbullah. Lukisan di atas kanvas akhirnya dibeli oleh Pak Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat dan Bupati Jombang Mundjidah Wahab. Tadi beliau juga mengagumi lukisan Gus Dur bersila di atas pisang,” kata Tobi sembari menunjukkan lukisan yang dimaksud.
Lantas apa filosofi Gus Dur bersila di atas sisisir pisang? Tobi menjelaskan, tanaman pisang banyak manfaatnya untuk berbagai keperluan hidup manuasia. Seluruh bagian dari tanaman pisang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari bonggol, batang, daun, buah dan bunga.
Buah pisang, lanjut Tobi, merupakan sumber vitamin dan mineral juga sebagai buah segar. Dapat pula dimanfaatkan untuk berbagai olahan makanan. “Tanaman pisang itu sekali hidup, kemudian mati. Tapi manfaatnya sangat banyak untuk hidup manusia. Bisa untuk pangan alternatif juga. Nah, hal itu selaras dengan Gus Dur,” ungkap Tobi.

Menurut Tobi, selama hidup, Gus Dur memberi manfaat yang besar untuk kemanusiaan. Gus Dur selalu melindungi kaum minoritas. Bahkan ketika mantan Ketua Umum PBNU ini sudah meninggal, masih memberikan manfaat bagi masyarakat. Makamnya dikunjungi ribuan orang setiap hari. Banyaknya pengunjung itu membuat ekonomi warga sekitar menggeliat. “Seperti itu filosofinya,” ujar seniman berambut gondrong ini.
Sementara itu, Ketua Kopijo (Komunitas Pelukis Jombang) Choirul Anas menambahkan, sebanyak 46 lukisan dipamerkan dalam ajang tersebut. Pameran dengan tema besar ‘Membentang Ijo-Abang’ ini dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Jadi ke-112 Pemkab Jombang.

Pameran yang dihelat selama lima hari tersebut bertajuk ‘Unity’. Artinya, satu kesatuan. Yakni bersatu saling menyemangati dengan berbagai kalangan untuk meningkatkan gairah berkesenian di Jombang. “Kami bermaksud menjadikan pameran ini sebagai momentum menyatukan semangat para pelukis dengan semua elemen masyarakat dan tak terkecuali pihak pemerintah,” ujar Anas.
“Selain itu juga dengan cara unik kita mencoba menampilkan ukuran karya yang seragam dengan tujuan agar pameran kali ini berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya. Kami sangat berterimakasih kepada panitia khususnya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang dan semua pihak terkait serta teman-teman media masa yang berkenan mendukung kegiatan kami,” pungkas Anas. [suf]






