Surabaya (beritajatim.com) – Selain terkenal dengan jalannya yang ekstrem, jalur Cangar-Mojokerto juga menyimpan kisah-kisah horor. Banyak pengendara yang mengaku diteror saat melintasi jalur tersebut.
Seperti halnya kisah yang dialami oleh salah satu mahasiswa UINSA Surabaya, Johan Fredo. Ia bersama 6 temannya, mengaku pernah diteror sesosok pocong penunggu jalur mistis tersebut.
Mendaki di Gunung Butak, Kabupaten Malang
Cerita dimulai saat Johan bersama 6 temannya melakukan pendakian di Gunung Butak pada 2018 silam. Selama pendakian itu, sebenarnya tak ada yang janggal. Hanya saja, salah seorang peserta badannya drop.
Namun kondisi itu masih bisa teratasi, dan mereka berhasil turun ke pos pertama dengan selamat. Jika dihitung, Johan bersama keenam temannya melakukan pendakian selama 4 hari.
Jalur Cangar-Pacet, Mojokerto
Bukan di gunung, justru kejadian mistis yang dialami oleh Johan dan teman-temannya ini terjadi di jalur Cangar-Pacet, Kabupaten Mojokerto. Saat itu, mereka hendak pulang secara rombongan mengendarai 4 sepeda motor.
“Rincinya, 6 orang berboncengan dengan 3 motor, sedangkan 1 orang mengendari motornya sendiri, Fahmi namanya,” ujar Johan memulai kisah horornya itu kepada beritajatim.com, Sabtu (27/1/2024).
Kabut mulai turun. Tibalah rombongan di perbatasan Cangar dan Desa Sendi, Pacet, tepatnya di area wisata Putuk Kursi. Di situlah, pertama kali Johan melihat sosok pocong menggantung di sebuah ranting pohon.
Saat itu hanya Johan yang melihat sosok aneh tersebut. Skeptis, ia pun tak memperdulikan kejadian itu dan terus melanjutkan perjalanan agar segera sampai ke rumah.
Namun tak dinyana, sejurus kemudian, sesosok tinggi besar terbungkus kain putih tiba-tiba muncul dan berdiri tegak di atas jok belakang, motor Fahmi.
Johan sempat tak percaya, ia mengira itu hanya sebuah halusinasi belaka. Apalagi kabut cukup tebal, ditambah lagi matanya yang minus, dan hari pun semakin gelap.
Curam dan licinnya jalan pasca hujan membuat laju motor sedikit lamban. Rasa lelah, cemas, takut pun bercampur aduk. Bagaimana tidak, selama perjalanan Johan harus melihat pocong yang berada tepat di depan matanya.
Tak ada cara lain, Johan terus menggeber motornya mengikuti laju rombongan menerjang gerimis. Puncaknya, pocong itu tiba-tiba melempar senyum kepada Johan. “Jantung rasanya mau copot,” kata Johan.
“Pocong itu berdiri menghadap belakang. Dia senyum, tapi serem,” lanjutnya.
Tidak mungkin Johan membalas senyum itu. Ia pun terus mengegas motornya. Momen yang juga membekas di ingatannya adalah, ketika berhadap-hadapan dengan pocong itu dengan jarak beberapa jengkal saja.
“Kalau di turunan kan otomatis Fahmi ngerem motornya. Nah, saat itu jarak kita dengan pocong dekat banget, berdempetan. Jelas banget wajahnya,” kata Johan.
Kira-kira ada sekitar 30 menit peristiwa menyeramkan itu berlangsung. Dimulai dari Desa Sendi, sampai di tiba di Tikungan Maut Gotekan, Pacet yang juga terkenal angker. Di tikungan itulah, pocong tersebut perlahan lenyap.
Sadar Diikuti Pocong
Tak jauh juga dari tikungan Gotekan itu, ada titik kumpul bernama Bunderan Pacet. Lokasinya memang di pusat keramaian. Johan pun merasa lega dan memutuskan untuk rehat sejenak bersama keenam temannya tersebut.
“Kita semua diam, nggak ada yang berani ngomong. Lalu saya nekad tanya ke anak-anak, tahu nggak kalau tadi di sepanjang jalan ada pocong,” ungkap Johan.
Rupanya, tiga orang di belakang Johan, termasuk yang ia bonceng mengalami hal serupa. Mereka melihat penampakan pocong, tingginya seperti manusia normal, wajahnya pucat, kain kafannya lusuh, dan berdiri menghadap ke belakang.
“Ternyata mereka lihat semua. Ciri-ciri yang disampaikan sama persis dengan apa yang saya lihat,” ungkap Johan.
Pun dengan Fahmi, sebenarnya dia juga mengetahui jika dirinya membonceng pocong. Bedanya, ia melihat pocong dengan posisi duduknya menyamping. Sedangkan Johan dan tiga temannya melihat pocong itu berdiri tegak.
“Fahmi lihat dari kaca spion, katanya pocong itu duduk nyamping. Yang paling serem, selain senyum, pocong itu juga mengayunkan tubuhnya ke arah kita pas jaraknya dekat, di turunan atau di tikungan” imbuh Johan.
Ditambahkan Johan, dari ketujuh orang, hanya ada dua orang saja yang tidak mengalami kejadian horor tersebut. Sebab, mereka berdua berada di barisan paling depan, atau tepat di depan Fahmi.
“Sampai sekarang kami belum tahu kenapa dan trigger apa sampai-sampai kami bisa diteror pocong itu,” tuturnya.
Sebagai informasi, jalur Cangar-Mojokerto memang dikenal sebagai jalur angker. Banyak pengendara yang mengaku melihat penampakan. Warga Mojokerto dan sekitarnya pun menyarankan agar pengendara selalu berpikiran jernih dan positif agar terhindar dari marabahaya. [ipl/ian]






