Ponorogo (beritajatim.com) – Polisi dari Polsek Somoroto Kecamatan Kauman mengambil sampel makanan yang diduga sebabkan puluhan warga keracunan usai hadiri resepsi pernikahan. Polisi mengambil sampel makanan yang masih tersisa, di kediaman yang menggelar hajatan resepsi di Desa Pengkol Kecamatan Kauman pada hari Senin (19/08) lalu.
“Kita dapat laporan kemarin sekitar pukul 17.00 WIB. Langsung ambil sampel makanan ke warga yang menggelar hajatan manten di Desa Pengkol,” kata Kapolsek Somoroto, Kompol Haryo Kusbintoro, Jumat (23/08/2024).
Dari suguhan makanan resepsi pernikahan pada hari Senin lalu, yakni makanan ringan (snack) dan nasi rames, polisi hanya mengambil sampel dari snack saja. Sebab, nari ramesnya sudah habis dan hanya tersisa snack yang berisi beberapa makanan ringan.
“Kita ambil sampel makanan dan kita kirim ke laboratorium,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, puluhan warga dari dua desa, yaitu Desa Pengkol, Kecamatan Kauman, dan Desa Pulosari, Kecamatan Jambon, diduga mengalami keracunan makanan usai menghadiri resepsi pernikahan di Desa Pengkol, pada hari Senin (19/8) lalu. Hingga Kamis malam (22/8), ada 4 warga masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Ngrandu, Kecamatan Kauman. Sementara belasan korban lainnya, memilih rawat jalan setelah pemeriksaan di puskesmas tersebut.
Salah satu korban, yakni Surati (55), warga Dukuh Kunden, Desa Pulosari, Kecamatan Jambon selang sehari usai resepsi, dirinya dilarikan ke Puskesmas Jambon. Saat menghadiri resepsi, Ia menyantap puding, bakso, dan nasi rames.
Malam harinya, Ia mulai merasakan sakit perut dan sering buang air besar. Setelah pengobatan dan sempat rawat inap di Puskesmas Jambon. Namun, karena tak kunjung sembuh, akhirnya Surati dirujuk ke RSU Aisyiyah Ponorogo. Pada Jumat pagi, kondisi Surati mulai membaik.
“Sudah tidak BAB lagi waktu di sini (RSU Aisyiyah-red), tetapi ya masih ngerasa perut sakit,” katanya.
Sepengetahuan Surati, ada 31 warga tetangganya, juga mengalami gejala serupa, setelah menghadiri hajatan tersebut. Beberapa warga memilih rawat inap di fasilitas kesehatan setempat, sementara lainnya hanya rawat jalan.
“Ya ada yang dirawat di puskesmas, ada juga yang cuma rawat jalan. Kalau saya tak kunjung sembuh saat dirawat di puskesmas, akhirnya dirujuk ke rumah sakit,” pungkasnya. [emd/but]






