Jember (beritajatim.com) – Dudung Ari Rusli, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal dunia, saat sedang bersepeda di Desa Ambulu, Kecamatan Ambulu, Kamis (3/3/2022) pagi.
“Beliau meninggal dalam usia 56 tahun, diduga karena serangan jantung,” kata Ghufron Evian Effendi, Humas PMI Jember, kepada beritajatim.com. Rencananya Dudung akan dimakamkan di tempat pemakaman umum dekat rumahnya di Desa Ambulu, sore ini.
Dudung meninggalkan seorang istri bernama Yayuk Mardiani dan tiga orang putra dan putri, yakni Muhammad Haikal Pasha, Queen Latifa Hasna, dan Muhammad Kemal Pasha.
Dudung dilahirkan pasangan Siti Hawa dan Suharso Jais pada 6 Oktober 1966. Dia memperoleh gelar dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, dan membuka praktik di desanya, Ambulu.
Sebelum bergabung dengan PMI Jember, Dudung sempat bekerja sebagai medical provider di International SOS, sebuah perusahaan asing bergerak di bidang pertambangan. Di sana dia belajar tentang standar prosedur operasional, etos kerja, kendali mutu, dan orientasi terhadap pelanggan.
“Kepada saya, beliau pernah mengatakan, senang bekerja di perusahaan tersebut, karena selain hal-hal yang didapatkan, beliau juga bisa berkeliling Indonesia. Traveling memang salah satu hobi beliau selain bermain game komputer,” kata Ghufron.
Dudung bergabung dengan PMI Jember pada 2002 dan diangkat menjadi Kepala Unit Donor Darah pada 3 Mei 2011 sampai saat ini. “Dia satu-satunya dokter di PMI Jember yang mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan hingga akhir hayatnya,” kata Ghufron.
[berita-terkait number=”5″ tag=”meninggal-dunia”]
Menurut Ghufron, pilihan Dudung berkiprah di PMI sudah dimantapkan dalam hati untuk memberi manfaat bagi manusia. “Insya Allah kiprah ini mendapat dua manfaat yaitu pertama nafkah hidup dan kedua nafkah untuk akhirat,” kata Dudung, sebagaimana ditirukan Ghufron.
Dudung memiliki obsesi menjadikan Unit Donor Darah PMI Jember sebagai institusi yang memiliki layanan yang baik kepada masyarakat dengan selalu mengedepankan mutu. “Kiat-kiat untuk mewujudkan mutu tersebut adalah 3 K., yakni Komitmen, Konsisten, Kerja keras. Komitmen kesungguhan untuk memberikan yang terbaik, konsisten terhadap manajemen mutu dan kerja keras,” kata Ghufron.
Dudung sempat membeberkan resepnya untuk menghadapi stres. “Cukup menikmati segelas kopi dan sebatang rokok, serta menikmati suasana sunyi. Sunyi bagi saya lebih cepat membawa untuk berpikir lebih cepat,” katanya, sebagaimana diingat Ghufron.
Ghufron mengaku kagum kepada Dudung. “Beliau punya motto: jangan pernah berhenti memberi terbaik dari diri baik untuk kemanusiaan dan berbuat untuk kebaikan sesama. Jangan segan memberikan pengaruh terhadap lingkungan dengan sesuatu yang simple dapat memberikan pengaruh besar contoh selalu senyum dengan lingkungan akan membawa suasana gembira,” katanya. [wir/suf]






