Situbondo (beritajatim.com) — Dalam kesunyian malam yang berat, kabar duka datang mengetuk pintu rumah Wahyudi dan Rina.
Putri, anak pertama mereka yang dikenal pendiam namun bersemangat menuntut ilmu, berpulang setelah atap asrama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani Ra ambruk, Rabu (29/10/2025) dini hari.
Suasana rumah duka di Situbondo pagi itu terasa syahdu. Aroma bunga melati bercampur dengan isak tertahan para pelayat.
Di antara mereka, Wahyudi tampak duduk memandangi foto sang putri yang mengenakan seragam. Matanya merah, tapi suaranya tetap tegar ketika menceritakan detik-detik terakhir kabar yang ia terima dari pondok.
“Saya dikabari sekitar pukul 02.30 WIB. Katanya, Putri sudah dibawa ke rumah sakit,” ujarnya lirih. “Sampai di sana, anak saya cuma luka memar di kaki dan bagian belakang bahu. Katanya sempat muntah tiga kali, tapi tidak ada makanan atau darah. Anaknya sempat bilang kalau tidak sakit, cuma sedikit pegal.”tambah Wahyudi ayah Putri.
Putri dikenal sebagai anak yang tidak banyak bicara, namun tekadnya menempuh pendidikan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Wahyudi menatap kosong di depan rumah, sebelum akhirnya berucap dengan suara bergetar, “Bahkan saat sekolah SD harus berjalan kaki tanpa dibawakan uang saku, Putri tetap bersemangat. Dia itu anak yang kuat dan tidak mau menyusahkan orang tuanya.”katanya.
Di sisi lain, Rina, sang ibu, menahan tangis saat mengenang keseharian Putri. Baginya, kepergian sang buah hati adalah ujian yang tak mudah diterima.
“Putri anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang duduk di kelas 1 SMP,” katanya pelan.
“Waktu dibawa ke dokter, cuma dibilang muntah tiga kali. Saya sempat tanya, kepalanya bagaimana? Katanya tidak apa-apa. Kami mohon doanya, semoga Putri husnul khatimah.”
Kabar duka ini tidak hanya mengguncang keluarga, tetapi juga seluruh warga pondok dan masyarakat sekitar. Kerabat, tetangga, dan pihak pesantren datang silih berganti memberikan dukungan dan doa.
Kini, kenangan tentang Putri hidup dalam cerita-cerita kecil tentang kesederhanaan dan ketegarannya. Gadis muda itu mungkin telah pergi, namun semangatnya tetap tertinggal—mengajarkan arti ketulusan dan keberanian bagi mereka yang ditinggalkan. (awi/ted)






