Surabaya (beritajatim.com) – Ada kemesraan antara Bonek dengan polisi saat ulang tahun Persebaya ke 96. Ribuan Bonek Mania mendatangi Jalan Tambaksari untuk merayakan ulang tahun Persebaya ke 96, Minggu (18/06/2023) pukul 00.01 WIB. Berbagai atribut seperti bendera, syal dan flare mengiringi perayaan hari jadi klub kebanggan warga Surabaya itu.
“Ojok onok seng ngelawan polisi (Jangan ada yang melawan polisi). Awakdewe mrene ga gae ricuh (Kita kesini tidak bikin ricuh),” ujar salah satu pimpinan kelompok Bonek.
Sejarah panjang perseteruan Bonek dan petugas kepolisian banyak tertulis di berbagai media. Pada Juni 2006, Bonek pernah bentrok dengan aparat kepolisian lantaran suporter yang identik dengan warna hijau itu men-sweeping para pendukung Arema yang hendak bertanding di Gresik. Dalam bentrok tersebut, petugas kepolisian sampai harus menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Lalu kejadian bentrok juga terjadi pada Kamis (10/11/16). Saat itu Bonek mania melakukan protes lantaran Keputusan Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Jakarta. Bonek marah dengan membakar ban dan melakukan perusakan fasilitas umum di Jalan Darmo hingga harus bentrok dengan anggota kepolisian.
Bentrok antara Bonek Mania dan petugas kepolisian terakhir terjadi di Surabaya pada Kamis (15/9/2022) malam. Bentrok dimulai saat Bonek meluapkan rasa kecewa usai tidak pernah menang dalam 3 laga di liga 1. Pada hari itu, Persebaya baru saja takluk 1-2 oleh Rans Nusantara FC. Petugas kepolisian sampai harus menggunakan gas air mata untuk membubarkan Bonek Mania yang berdemo di kantor Manajemen Persebaya.
Masih banyak rentetan kejadian bentrok antara petugas kepolisian dan Bonek. Namun, saat malam perayaan Ulang Tahun Persebaya ke 96, di Tambaksari, rentetan peristiwa bentrok polisi vs Bonek seperti tidak mempunyai arti. Bonek telah bertransformasi menjadi suporter sepakbola yang dewasa. Pun pihak kepolisian juga telah mengubah cara pendekatan dengan Bonek.
BACA JUGA:
Rayakan HUT Persebaya ke 96, Ribuan Bonek Mania Padati Jalan Tambaksari
Dalam acara Ulang Tahun Persebaya ke 96, bentrokan sempat terjadi. Bukan antara Bonek dan Polisi. Malah pertengkaran antar Bonek sendiri. Petugas kepolisian yang berjaga memecah bentrokan tidak dengan gas air mata dan pentungan walaupun kalah jumlah dengan oknum Bonek yang terlibat perkelahian.
Aksi kepolisian memisahkan oknum Bonek yang bertengkar justru dibantu oleh para Bonek Mania lainnya dengan mengamankan para provokator. Alhasil, para provokator yang mengatasnamakan Bonek harus keluar barisan dengan iringan sorak sorai para pendukung Persebaya itu yang membantu petugas kepolisian.
“Ndeso – Ndeso. Duduk Bonek iku pak. (Udik-udik. Bukan Bonek itu pak). Iku (Itu) Provokator,” teriakan sejumlah anggota Suporter Persebaya.

Kemesraan Bonek dan petugas kepolisian tidak berhenti disitu. Sejumlah Bonita (Bonek Wanita) juga sempat pingsan dalam acara Ulang Tahun Persebaya ke 96. Kepulan Asap dari puluhan Flare memang tidak bisa dihindari. Terlebih lagi, ribuan Bonek yang memadati Jalan Tambaksari membuat sejumlah Bonita tumbang.
Petugas Satreskrim Polrestabes Surabaya yang identik dengan baju merah dan rompi hitam dengan sigap menembus lautan manusia di Jalan Tambaksari saat terdengar suara teriakan minta tolong. Petugas memberikan bantuan pertama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Bonek sekarang semakin luar biasa dan saya bangga dengan bonek yang selalu tertib dalam semua kegiatan,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana.
BACA JUGA:
Polrestabes Surabaya Kerahkan 800 Personel di Tambaksari
Klaim Mirzal bukan rayuan gombal untuk menyenangkan Suporter fanatik Bajul Ijo. Sebagai seorang polisi yang lahir dan besar di Tambaksari, Surabaya, Ia terus melihat bagaimana Bonek terus bertransformasi. Kini, saat ia mempunyai jabatan sebagai aparat penegak hukum, ia selalu berpesan kepada anggotanya jika Bonek adalah keluarga kepolisian.
“Kami akan selalu ada berdampingan dengan Bonek untuk menjaga keamanan kota Surabaya. Saya juga Bonek dari kecil. Saya bangga menjadi bagian dalam perjalanan proses Bonek Mania,” tutur Mirzal.
Hubungan Bonek dan Polisi telah menjalani berbagai proses mulai saling serang antara gas air mata dan batu. Hingga saling membantu untuk memberantas kejahatan di kota Surabaya. Seperti kutipan Mahatma Gandhi, ‘Persatuan untuk menjadi nyata harus tahan terhadap tekanan terberat tanpa putus’. [ang/suf]






