Nganjuk (beritajatim.com) – Bantuan alat bantu dengar hingga kursi roda menjadi angin segar bagi warga yang membutuhkan di Kabupaten Nganjuk. Melalui Kementerian Sosial (Kemensos) RI, sebanyak 29 Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) menerima bantuan dengan total nilai Rp91.834.000.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Sentra Terpadu Kartini di Temanggung. Penyerahan bantuan berlangsung di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk dengan jenis bantuan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing penerima manfaat.
Kepala Sentra Terpadu Kartini di Temanggung, dr. Nova Dwiyanto Suli, mengatakan penyaluran bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kemensos, Dinas Sosial, dan pendamping sosial.
Peran pendamping sosial dinilai penting untuk menjangkau warga yang membutuhkan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan mereka. Sebanyak 29 penerima manfaat tersebut berasal dari kelompok penyandang disabilitas, lanjut usia, dan kelompok rentan.
“Kegiatan hari ini adalah atas dasar kolaborasi bersama antara Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan para pendamping sosial yang bisa menjangkau penerima,” kata dr. Nova Dwiyanto Suli, Kamis (22/10/2026).
Dari total penerima bantuan, sebanyak 20 orang merupakan penyandang disabilitas. Mereka mendapatkan beragam alat bantu untuk mendukung mobilitas, komunikasi, serta aktivitas sehari-hari.
Bantuan yang disalurkan meliputi enam alat bantu dengar (ABD), satu elbow kruk, dua kaki palsu, dan satu reglet stylus. Selain itu, terdapat satu kursi roda untuk penyandang cerebral palsy, dua kursi roda multiguna, enam kursi roda semi travel, serta satu tongkat penuntun adaptif.
Salah satu penerima alat bantu dengar adalah Titik Syafaatin (25), warga Nganjuk. Ibunya, Baiti (50), mengaku bersyukur anaknya mendapat bantuan tersebut. Menurut Baiti, gangguan pendengaran yang dialami Titik sudah terjadi sejak masih dalam kandungan. Kondisi itu membuat komunikasi sehari-hari harus banyak mengandalkan gerakan tangan.
Baiti menceritakan, keluarga selama ini terbiasa menggunakan bahasa isyarat sederhana untuk berkomunikasi dengan Titik. Aktivitas seperti menyapu rumah hingga pergi ke sawah dilakukan dengan bantuan gerakan tangan saat menyampaikan maksud.
Cara tersebut menjadi bagian dari keseharian keluarga dalam berinteraksi. “Seneng dapet bantuan,” kata Baiti saat ditemui di lokasi penyaluran.
Selain penyandang disabilitas, bantuan juga diberikan kepada delapan warga lanjut usia dan satu orang dari kelompok rentan. Mereka menerima paket pemenuhan hidup layak yang berisi kebutuhan nutrisi, perlengkapan kebersihan diri, serta sarana kamar.
Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar penerima manfaat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa alat bantu, tetapi juga kebutuhan dasar bagi warga yang memerlukan perhatian sosial.
Nova menjelaskan, penerima bantuan ditetapkan berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan pendamping sosial. Proses tersebut menjadi dasar untuk menyesuaikan bentuk bantuan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing warga.
Kemensos berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat nyata bagi penerima, terutama dalam menunjang kemandirian dan kualitas hidup mereka. “Hari ini ada 29 PPKS warga Kabupaten Nganjuk yang akan kami berikan bantuan dengan total Rp91.834.000 dari berbagai kluster yang ada,” ungkapnya.
Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Kemensos. Nova menyebut, sejak Januari hingga 22 Oktober 2026, bantuan melalui program tersebut telah disalurkan kepada 753 warga Kabupaten Nganjuk.
Total nilai bantuan yang diberikan sepanjang periode itu mencapai Rp1.863.968.000. Jumlah tersebut mencakup dukungan bagi warga yang membutuhkan penanganan sesuai kondisi sosial dan kebutuhannya.
Melalui program ATENSI, Kemensos berupaya memberikan dukungan sosial yang lebih sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pendamping sosial menjadi bagian penting dalam proses identifikasi hingga penyaluran bantuan.
Pendekatan berbasis asesmen diharapkan membuat bantuan lebih tepat sasaran. Bagi keluarga penerima, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, juga sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk beraktivitas dengan lebih mandiri. [end/suf]






