Jember (beritajatim.com) – Di tengah kemarau panjang, Pabrik Gula Glenmore di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memproduksi 66.263 ton gula pada 2026 yang diperoleh dari 883.241 ton tebu. Harga gula pun lebih bagus daripada tahun sebelumnya.
PG Glenmore menerima pasokan tebu dari 210 orang petani anggota Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) yang membudidayakan lahan seluas 2.822 hektare, dengan rendemen rata-rata itu 7,5 persen.
Sebenarnya petani berharap rendemen bisa mencapai delapan persen. “Awalnya enam persen koma sekian, merangkak tujuh persen, delapan persen. Dirata-rata 7.5 persen,” kata Ketua APTR Pabrik Gula Glenmore Siswono, Kamis (29/10/2026).
Namun Siswono tetap bersyukur, karena rendemen ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mencapai rata-rata 7,2 persen. “Lebih menjanjikan tahun ini. Kalau kemarin kami enggak bisa berkutik karena cuaca hujan terus-menerus, sehingga kadar gula rendah sekali,” katanya.
Harga gula saat ini juga lebih baik, Rp15.800 per kilo gula. “Kalau tahun kemarin Rp14.600-14.700 per kilo. Tahin ini perkiraan rata-rata harga di PG Glenmore termasuk tertinggi dibandingkan PG lain, kecuali PG Prajekan di Bondowoso,” kata Siswono.
Menurut Siswono, kemarau panjang ini membuat tebu kurang terawat. “Waktu untuk memupuk kan harus dibantu air. Namun karena lahan ini cukup luas dan jauh dari sungai. Kesuburan tanaman jadi kurang layak untuk pasca panen 2006 menuju 2027,” katanya.
Siswono berharap kepada pemerintah untuk benar-benar tidak mengimpor gula yang dapat merugikan petani lokal. “Mudah-mudahan swasembada gula ini memungkinkan untuk memenuhi target pemerintah, sehingga impor gula, termasuk rafinasi, tidak dilakukan,” katanya.
Kalau impor gula tetap dilakukan, Siswono menyebutnya kebijakan tidak populis. “Ini menindas petani tebu,” katanya. [wir/suf]






