Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar mulai membunyikan alarm kewaspadaan menghadapi potensi fenomena El Niño ekstrem atau yang kerap dijuluki “El Niño Godzilla”. Berdasarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Timur, wilayah Kota Blitar diprediksi akan dihantam kekeringan berkepanjangan yang berlangsung mulai akhir April hingga Oktober 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dewi Masitoh, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi untuk menyusun langkah mitigasi guna melindungi sektor pangan di Bumi Bung Karno.
Dalam menghadapi masa kemarau yang diperkirakan berlangsung selama enam bulan ke depan, DKPP Kota Blitar membagi strategi menjadi dua lini yakni angka pendek dan jangka panjang. Fokus utama saat ini adalah menyelamatkan 973 hektar luas baku sawah di Kota Blitar agar tetap produktif meski pasokan air berkurang.
“Kemarin kami menerima SE dari Gubernur terkait adanya El Niño di sekitar akhir April sampai Oktober. Kami juga sudah bertemu Gubernur untuk membahas antisipasi kemarau panjang ini,” ujar Dewi Masitoh pada Kamis (16/04/2026).
Untuk strategi jangka pendek, Dewi menekankan pentingnya ketersediaan cadangan air di titik-titik krusial.
Dalam hal ini DKPP Kota Blitar memfokuskan pemeliharaan dan penggunaan air pada dua titik penyimpanan utama (storage), yakni Embung Jati Malang dan Embung Klampok. Saat ini, kapasitas air di kedua lokasi tersebut dilaporkan masih berada pada level aman, yakni sekitar 2/3 dari kapasitas total.
Selain itu DKPP Kota Blitar juga mulai mensosialisasikan diversifikasi tanaman. Mengingat masa panen padi baru saja usai, DKPP mengimbau petani untuk tidak memaksakan menanam padi di musim kering ini.
“Persiapannya, ketika musim seperti ini, petani diarahkan lebih ke menanam jagung yang lebih tahan terhadap keterbatasan air,” tambahnya.
Konservasi Mata Air tak hanya fokus pada penanganan darurat, Pemkot Blitar juga mulai mencanangkan langkah keberlanjutan. Dewi menjelaskan bahwa perlindungan terhadap ekosistem air menjadi kunci utama agar dampak kekeringan tidak semakin parah di masa depan.
“Untuk jangka panjang, kami melakukan penanaman pohon di kawasan KKMP (Kawasan Konservasi Mata Air) dan di sepanjang bantaran sungai. Ini krusial untuk menjaga resapan air tanah tetap stabil,” jelasnya.
Kewaspadaan tinggi ini bukan tanpa alasan. Pada tahun 2025 lalu, Kota Blitar berhasil mencatatkan angka produksi padi yang gemilang mencapai 8.245 ton. Capaian ini didukung oleh cuaca yang sangat bersahabat bagi petani pada periode tersebut.
Namun, dengan bayang-bayang El Niño di depan mata, tantangan tahun 2026 dipastikan akan jauh lebih berat. DKPP berharap dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang solid antara pemerintah dan petani, stok pangan di Kota Blitar tetap terjaga meski harus melewati ujian kemarau panjang.
“Tahun lalu cuaca sangat mendukung, sangat pas untuk menanam. Tahun ini kita harus lebih waspada dan adaptif terhadap perubahan iklim agar hasil panen tidak merosot tajam,” pungkas Dewi. (owi/but)






