Magetan (beritajatim.com) – Cuaca kemarau basah yang terjadi saat ini meresahkan para petani tembakau di Magetan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas panen tembakau yang diperkirakan akan berlangsung pada akhir Juli hingga September mendatang.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Magetan, Siswanto, menjelaskan tanaman tembakau di daerah Kecamatan Sidorejo sudah memasuki masa tanam tua dan siap panen. Keadaan ini membuat petani berharap hujan dengan intensitas rendah atau bahkan tidak turun sama sekali.
“Memang untuk tanaman yang masih muda itu masih memerlukan air, tapi karena tanaman disini mayoritas sudah berada di usia sekitar 60-70 hari jadi harapannya hujan tidak turun terus menerus,” ujar Siswanto, Rabu (10/7/2024)
Hujan yang terus-menerus dikhawatirkan dapat menyebabkan beberapa hal pada tanaman tembakau, seperti:
– Penurunan kualitas daun tembakau: Daun tembakau yang kembali hijau dan terkena hujan akan tercuci, sehingga menurunkan kualitasnya.
– Kemunculan hama dan penyakit: Cuaca basah dapat mempercepat perkembangbiakan hama kutu-kutuan, ulat kupu-kupu, dan virus.
– Kematian tanaman: Intensitas air yang tinggi dapat menyebabkan tembakau layu, rusak, dan bercak kuning pada daunnya.
Siswanto mengimbau petani untuk intensif dalam pengamatan dan perawatan tanamannya. Petani juga harus segera melakukan tindakan jika ada tanda-tanda serangan hama atau penyakit.
Dinas terkait dan PT Djarum juga sering melakukan sosialisasi teknik terbaru perawatan tembakau kepada para petani. Salah satu contohnya adalah penggunaan bekatul dicampur insektisida untuk mengendalikan hama ulat pada daun muda.
Di sisi lain, Siswanto mengungkapkan jumlah petani tembakau tahun ini diperkirakan lebih banyak daripada tahun lalu. Pemicunya, harga tembakau tahun lalu relatif tinggi.
“Kita sebagai petani tentu besar harapannya hasil tanam tembakau tahun ini lebih baik daripada tahun lalu,” pungkas Siswanto. [fiq/beq]






