Malang (beritajatim.com) – Tangis haru mewarnai unjuk rasa ratusan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, Kamis (22/6/2023) di depan Kantor Bupati Malang di Jalan Raya Panji, Kecamatan Kepanjen.
Berdiri di depan Kantor Bupati, tak satupun pejabat pemerintah ditempat ini yang menemui pengunjuk rasa. Dengan berderai air mata, keluarga korban tragedi Kanjuruhan mengaku sudah kembali bersatu. Meski sempat terpecah, bersatunya ahli waris dari 135 korban jiwa dalam peristiwa 1 Oktober 2022 lalu, berharap keadilan diusut setuntas tuntasnya.
“Kami sebagai wakil dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, meminta dengan sangat diusut seadil adilnya. Jangan ada penyelewengan daripada inspirasi keluarga korban tragedi Kanjuruhan,” kata Sanuwar (57), perwakilan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.
Sanuwar adalah ayah kandung dari mendiang Eka Priyati Mei Wulandari (19), satu dari 135 korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan. Sanuwar mengaku, apa yang harusnya jadi tanggung jawab pemerintah, harus segera diberikan pada keluarga korban tragedi Kanjuruhan.
“Pemerintah harus bertanggung jawab atas kejadian di stadion Kanjuruhan. Kami sebagai keluarga korban meminta agar tragedi Kanjuruhan diusut tuntas dengan seadil adilnya,” tegas Sanuwar, warga Pakis, Kabupaten Malang itu.

Sanuwar merasa, keadilan bagi keluarga korban belum terpenuhi secara menyeluruh.
“Kami sebagai wakil dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, meminta dengan sangat diusut seadil adilnya. Jangan ada penyelewengan daripada inspirasi keluarga korban tragedi Kanjuruhan,” ujarnya.
Soal rencana stadion Kanjuruhan akan dibongkar, Sanuwar bersama seluruh keluarga korban tragedi Kanjuruhan sepakat. Namun, harus ada penyelesaian dari segi hukum dengan seadil adilnya.
“Monggo kalau mau dibongkar apabila sudah memenuhi persyaratan, atau tuntutan yang diminta keluarga korban tragedi Kanjuruhan sudah dipenuhi. Kalaupun nanti jadi dibongkar, kami keluarga korban tragedi Kanjuruhan meminta agar dibuatkan museum untuk korban tragedi Kanjuruhan semua,” ujarnya.
BACA JUGA:
Demo Kantor Bupati Malang, Keluarga Korban Anggap Ada Pembantaian di Tragedi Kanjuruhan
Sanuwar memastikan, keluarga korban tragedi Kanjuruhan kembali bersatu menuntut keadilan. “Sore ini kami datang bersama keluarga korban tragedi Kanjuruhan, kami bersatu kembali mendatangi kantor Pak Bupati, intinya meminta sebuah keadilan terhadap Pak Bupatinya,” Sanuwar menutup.
Ditempat sama, Sunari (65), ayah kandung dari mendiang Mayang Agustin (20), satu dari 135 korban meninggal dunia di Tragedi Kanjuruhan, menambahkan, pihaknya bersama keluarga korban mendukung apabila stadion Kanjuruhan kembali dibangun. “Kami mendukung apabila dibangun kembali, tapi selesaikan dulu masalah tragedi kanjuruhannya,” beber Sunari, warga Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang itu.
Sunari menganalogikan peristiwa tragedi Kanjuruhan dengan Sambo. Yang diancam hukuman mati karena membunuh satu anggota Polisi. “Lah ini (Tragedi Kanjuruhan-red) bukan pembunuhan, bukan kecelakaan, ini pembantaian kok pemerintah seakan akan membekukan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Jadi harapan kami sama saudara saudara keluarga korban tragedi Kanjuruhan semua ini, minta keadilan seutuhnya,” Sunari mengakhiri. (yog/kun)






