Malang (beritajatim.com) – Puluhan peserta yang terdiri dari siswa sekolah, santri, dan anak-anak dari komunitas disabilitas, mendapat kesempatan langka menjajal teknologi canggih Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) dalam kegiatan KELAS FUTURIA (Kelas Virtual STEM untuk Generasi Muda Indonesia).
KELAS FUTURIA dirancang sebagai diseminasi inovasi lanjutan dari Universitas Negeri Malang (UM). Jika sebelumnya program GURU JAGO menyasar para pendidik, kali ini KELAS FUTURIA hadir untuk menyentuh langsung peserta muda. Kabupaten Kediri menjadi daerah pertama pelaksanaan program sebelum berlanjut ke Trenggalek, Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Blitar.
Kepala Desa Sidomulyo, Purwanti, yang membuka acara bersama jajaran perangkat desa, menyambut antusias kehadiran tim UM. Ia menyampaikan rasa bangganya melihat anak-anak di desanya dapat merasakan pengalaman belajar digital setara dengan yang ada di kota besar.
“Selama ini, anak-anak di desa hanya melihat teknologi dari televisi. Hari ini mereka bisa mencobanya langsung, belajar sambil bermain, dan itu sangat luar biasa,” ujar Ibu Purwanti.
Ketua Tim In Saintek Universitas Negeri Malang, Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, KELAS FUTURIA adalah bentuk diseminasi inovasi PUI-PT DLI UM. Fokusnya adalah pengenalan teknologi pembelajaran digital bagi generasi muda, terutama di daerah yang belum terjangkau.
“Kami ingin anak-anak desa memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal teknologi. Melalui kelas ini, mereka belajar sains, teknologi, dan kreativitas dengan cara yang menyenangkan,” kata Andika, yang juga dosen muda Fakultas Teknik UM kepada beritajatim.com, Kamis (23/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program In Saintek yang diinisiasi oleh Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang (UM) bersama Pusat Unggulan Ipteks-Perguruan Tinggi Disruptive Learning Innovation (PUI-PT DLI). Program ini sekaligus menjadi implementasi dari Hibah In Saintek 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Tim In Saintek UM yang hadir di Sidomulyo terdiri dari kolaborasi lintas generasi. Tampak Mahfudy Sahly S., M.Pd., dosen Fakultas Teknik UM, mendampingi penyiapan materi STEM yang interaktif.
Mahasiswa S2 PKJ UM, Kintan, memandu sesi permainan edukatif. Silva, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, secara khusus membantu anak-anak komunitas disabilitas agar dapat mencoba perangkat VR dengan aman.
Dua mahasiswa Fakultas Teknik, Arvin dan Reyhan, bertugas menyiapkan peralatan AR/VR dan mengarahkan simulasi virtual. Kegiatan ini juga didukung oleh Frido, alumni Fakultas Teknik UM yang berdomisili di Sidomulyo dan berperan sebagai penghubung tim kampus dengan perangkat desa.
Kehadiran tim membuat suasana cair. Anak-anak bebas bertanya dan bersorak saat mencoba perangkat VR pertama kali. Seorang siswa SD bahkan berteriak kecil saat melihat dirinya melayang di ruang angkasa virtual.
Suara tawa dan decak kagum puluhan anak menggema di aula Kantor Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, baru-baru ini. Aula yang biasanya kaku untuk rapat desa, hari itu disulap menjadi dunia virtual penuh warna oleh tim dari Universitas Negeri Malang (UM).
Dalam kegiatan inti, anak-anak bergiliran mengenakan headset VR dan menjelajahi simulasi Metaverse Classroom. Mereka berinteraksi dengan objek tiga dimensi seperti planet, struktur atom, dan percobaan sains sederhana.
Sementara itu, anak-anak dari komunitas disabilitas difasilitasi mengikuti sesi Augmented Reality menggunakan tablet. Mereka diajak mengenali bentuk hewan dan planet melalui gambar yang hidup di layar, memicu keriuhan kagum setiap kali objek baru muncul.
Raka, seorang siswa SMP, mengaku pengalaman ini membuatnya semakin tertarik belajar sains.
“Biasanya pelajaran IPA itu susah dibayangkan, tapi kalau seperti ini saya jadi paham. Rasanya seperti benar-benar ada di ruang angkasa,” katanya.
Tim In Saintek UM juga melanjutkan sesi dengan mini games berbasis STEM, di mana anak-anak menyusun bentuk 3D menggunakan balok digital. Aktivitas ini mengajarkan konsep keseimbangan, gravitasi, dan kreativitas secara menghibur.
Program KELAS FUTURIA menegaskan peran PUI-PT DLI UM sebagai lembaga yang berkomitmen mendiseminasikan hasil riset pembelajaran digital agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat, seperti smart learning, gamified learning, dan virtual classroom.
Andika Bagus menegaskan bahwa diseminasi ini bukan hanya berbagi pengetahuan, tetapi sebuah upaya membuka jendela masa depan bagi anak-anak di daerah.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan rasa haru dari Kepala Desa Sidomulyo. “Hari ini anak-anak desa kami belajar dengan cara yang belum pernah mereka alami. Mereka melihat dunia yang baru, dan mungkin dari sinilah lahir mimpi-mimpi besar,” tutur Ibu Purwanti.
Sebagai tambahan informasi, tim In Saintek UM berkomitmen melanjutkan program KELAS FUTURIA ke daerah lain di Jawa Timur, yakni Trenggalek, Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Blitar, sebagai bukti bahwa inovasi pendidikan bukan hanya milik kota besar. [dan/aje]






