Blitar (beritajatim.com) – Kemarau panjang membuat kekeringan yang terjadi di wilayah Blitar Selatan semakin parah. Data BPBD Kabupaten Blitar kini 4 Kecamatan yang telah terdampak kekeringan dan kesulitan air bersih.
Salah satu daerah yang cukup parah terdampak kekeringan adalah Desa Tugurejo, Kecamatan Wates dan Desa Sumber Kembar Kecamatan Binangun. Warga di dua desa itu pun harus bersabar menunggu berjam-jam di sumber air atau yang biasa disebut “belik” demi bisa memperoleh air bersih.
Belik adalah sebutan warga untuk sebuah tempat yang memiliki sumber air yang lokasinya lumayan jauh dari pemukiman. Kondisi air di sejumlah belik, saat ini sudah jauh menyusut imbas dari kemarau panjang.
Maka dari itu warga harus antre berjam-jam demi bisa menimba air dari dalam belik. Air hasil antre dari belik atau sumber ini biasanya digunakan warga untuk keperluan mandi atau mencuci. Sementara untuk keperluan minum, warga mengandalkan bantuan dari BPBD Kabupaten Blitar.
“Golek biasane nang Sumber seng biasane kae mas tapi lak ngandalne kui kurang ngono lo, jane yo enek tapi yo kurang. (Cari biasanya ya ke sumber yang biasanya itu mas tapi kalau mengandalkan itu yang tidak mencukupi),” kata Darwin Pambudi, warga Sumber Kembar, Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar, Kamis (26/10/23).
Baca Juga:
Hujan dan Banjir Jadi Ancaman Serius Pembangunan Jembatan Dawuhan Blitar
Kondisi serupa juga dialami oleh warga Desa Tugurejo Kecamatan Wates Kabupaten Blitar. Di Sana warga saat ini juga sudah mulai mencari air di sejumlah belik atau sumber.
Meski bantuan dropping air dari BPBD terus berjalan, namun warga juga tetap mencari air di belik atau sumber. Itu dilakukan warga sebagai langkah untuk menghemat penggunaan air bersih bantuan dari BPBD Kabupaten Blitar.
Warga memilih menggunakan air bersih dari bantuan BPBD untuk keperluan minum. Sementara untuk mandi dan mencuci warga memilih mencari air dari belik dan sumber.
“Ya sudah cari air ke sumber air atau belik, untuk keperluan mandi dan mencuci,” ucap Impong.
Dua desa tersebut memang sudah menjadi langganan kekeringan bila musim hujan tiba. Warga juga selalu bergantung pada belik atau sumber untuk mencari air bersih.
Baca Juga:
Harga Cabai Rawit di Blitar Kian Pedas, Tembus Rp60 Ribu
Meski pada kenyataannya, air yang diperoleh dari belik atau sumber tidak banyak dan tidak bisa mencukupi untuk kebutuhan mandi, minum serta ternak warga. Maka dari itu kini warga memilih mengatur penggunaan air bantuan BPBD untuk memenuhi kebutuhan minum.
Sementara untuk keperluan mandi, mencuci serta minum ternak warga memilih untuk menggunakan air dari belik atau sumber.
“Kalau diloskan 2 hari air bantuan BPBD pasti habis, makanya diselingi dengan air dari belik atau sumber,” ujarnya.
Sementara itu BPBD Kabupaten Blitar terus melakukan droping air bersih ke 4 kecamatan terdampak kekeringan. Total hingga saat ini sudah 558 ribu liter air bersih disalurkan BPBD Kabupaten Blitar untuk 1148 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.
“Dalam sehari ada tiga armada yang disiagakan masing masing kapasitas enam ribu liter per tangkinya,” kata Kepala Pelaksana BPBD kabupaten Blitar Ivong Berrtryanto.
Menurut BPBD Kabupaten Blitar 5 Desa di 4 Kecamatan yang terdampak kekeringan itu memang sudah jadi langganan kekeringan. Hal itu terjadi lantaran lokasi di daerah tersebut merupakan pegunungan kapur. Sehingga secara geografis lokasi tersebut memang rawan terjadi kekeringan.
“Debut air terus berkurang sehingga air menjadi keruh dan tidak bisa digunakan untuk makan dan minum,” tutup Ivong. (owi/ted)






