Surabaya (beritajatim.com) – Keisha Aqilla Rafanda awalnya hanya ingin memiliki camilan yang bisa ia makan. Ia memiliki kebutuhan untuk menghindari gula dan susu, sehingga pilihan camilan yang sesuai tidak selalu mudah ditemukan.
Dari pengalaman itu, siswa SDN Sawojajar 5 Kota Malang tersebut mulai memikirkan kemungkinan membuat camilan sendiri. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak lain yang memiliki kebutuhan serupa, termasuk mereka yang intoleran terhadap laktosa. Kelapa kemudian menjadi pilihannya.
Melalui karya “COCO SNOW: Innovation of Vegan Coconut Snack Using Freeze-Drying Technology”, Keisha mengembangkan kelapa menjadi camilan tanpa tambahan gula. Rasa manisnya berasal dari air kelapa secara alami.
Pilihan tersebut juga tidak jauh dari lingkungan tempat Keisha tumbuh. Kelapa banyak dijumpai di berbagai wilayah Jawa Timur dan selama ini umum diolah menjadi minuman maupun makanan ringan. Keisha mencoba melihatnya dari sisi berbeda: bagaimana kelapa dapat diolah menjadi camilan dengan nilai tambah melalui teknologi.
COCO SNOW dikembangkan menggunakan freeze-drying, atau pengeringan beku. Bahan dibekukan terlebih dahulu, kemudian kandungan airnya dikeluarkan dalam kondisi vakum. Metode tersebut memungkinkan proses pengeringan dilakukan dengan paparan panas yang sangat rendah.
Teknologi itu kemudian menjadi salah satu hal yang harus benar-benar dipahami Keisha ketika membawa COCO SNOW ke The 13th Indonesia Inventors Day (IID) 2026 di Jakarta.
Di hadapan juri, ia tidak hanya menunjukkan produk, tetapi juga harus menjelaskan proses pembuatannya, teknologi yang digunakan, karakteristik produk, hingga peluang penerimaannya di pasar.
Tantangannya bertambah karena seluruh presentasi dilakukan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan dari juri juga disampaikan dalam bahasa Inggris dan dijawab Keisha dalam bahasa yang sama.
Setelah mendengar penjelasan dan jawaban Keisha, salah seorang juri spontan mengatakan:
“Your parents must be proud of you.”
Kalimat itu menjadi salah satu momen yang paling diingat Keisha dari ajang tersebut.
IID 2026 berlangsung pada 3-6 Oktober dan diikuti 543 tim dengan lebih dari 2.000 peserta dari 21 negara. Bagi Keisha, berada di antara peserta dari berbagai negara sekaligus mempertanggungjawabkan sendiri sebuah produk yang dibuatnya menjadi pengalaman yang tidak biasa.
Namun, kejutan terbesar justru datang ketika penghargaan diumumkan.
Saat kategori elementary dipanggil, nama Keisha tidak terdengar. Ia sempat mengira dirinya tidak mendapatkan penghargaan.
Beberapa saat kemudian, namanya justru dipanggil pada kelompok peserta di atas kategori tersebut.
Keisha akhirnya meraih Gold Award.
“Happy, kaget, dan terharu,” kata Keisha menggambarkan perasaannya.
Penghargaan tersebut diterimanya dalam acara awarding di SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Gold Award itu bukan pengalaman pertama Keisha membawa inovasi pangan ke ajang kompetisi. Sebelumnya, pada 10-12 Februari 2026, ia meraih Gold Medal dalam AISEEF (ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair) di Universitas Diponegoro.
Dalam ajang tersebut, Keisha membawa Smart Coklat, cokelat vegan dengan penambahan omega-3 nabati dari ekstrak sancha ichi, serta vitamin dan mineral.
Dua pengalaman tersebut berjalan seiring dengan ketertarikan Keisha pada dunia usaha. Ia sudah memiliki cita-cita untuk menjadi pebisnis.
Di balik berbagai eksperimennya, ada peran orang tua yang cukup besar. Mereka menyediakan mesin yang dibutuhkan untuk pengembangan produk, mendampingi Keisha ketika memilih bahan baku kelapa, sekaligus memberikan ruang bagi anaknya untuk mencoba mewujudkan apa yang ada dalam imajinasinya.
Bagi Keisha, proses membuat produk menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. Ia belajar mengenali bahan, mencoba teknologi, memahami kebutuhan calon pengguna, kemudian menjelaskan produknya kepada orang lain.
Untuk saat ini, Keisha masih duduk di bangku sekolah dasar. COCO SNOW adalah salah satu hasil dari rasa ingin tahu yang terus ia kembangkan—dan kali ini, gagasan tentang camilan kelapa itu membawanya dari Sawojajar, Kota Malang, ke panggung internasional, lalu pulang dengan Gold Award. (tok/ian)






