Malang (beritajatim.com) – Dunia hiburan malam di Malang bukan sekadar tempat menghabiskan waktu dengan berteguk-teguk bir dan alkohol, melainkan juga jadi tempat untuk memuaskan hasrat sensual.
Jika mencari di Google dengan kata kunci ‘Rekomendasi Klub dan Night Life di Malang’ maka akan ada sederet nama yang tertera di sana. Namun, wawasan dari Google tidak cukup untuk menguak sisi lain tempat hiburan malam di kota Malang.
Oleh sebab itu, beritajatim.com mencoba untuk mewawancarai sejumlah narasumber yang berstatus sebagai mahasiswa di kota Malang.
CF (24), mahasiswa di salah satu kampus perguruan tinggi negeri kota Malang menuturkan bahwa tempat hiburan malam sangat beragam, search engine Google bahkan tidak mengakomodir semuanya. Baginya, tempat hiburan malam berarti juga kehidupan malam (night life).
CF mengartikan kehidupan malam sebagai kesempatan setelah hiburan malam. Artinya, dunia malam berhubungan dengan sisi lain dari tempat hiburan malam, salah satunya free sex atau hubungan seks bebas.
“Meskipun sebenarnya ya gak bebas banget, karena kita juga gak bisa main di tempat dugem. Bebas dalam artian kita bisa cari kenalan perempuan yang mau begituan di sana,” ungkap CF.
“Saya punya satu klub favorit untuk dugem, kebetulan tempat itu biasanya kalau di cari di Google muncul paling atas. Di sana itu ya seperti biasanya, kita dugem pesan table atau sofa, harganya beragam, biasanya kalau malam libur atau hari libur nasional jadi lebih mahal. Lebih mahal lagi pas ada event musik seperti Wisnu Santika, Weird Genius, atau dj lain,” ungkap CF saat ditemui di Coffee Shop.
Di tempat hiburan malam (dugem.red), ada istilah yang menjadi akar untuk pasangan muda mudi akhirnya melakukan hubungan seksual. CF menyebutnya dengan ‘bungkus’.
“Kalau ngebungkus itu berarti kita bawa perempuan yang biasanya baru kenal di sana, terus kita ajak makan dulu ke salah satu spot kuliner tengah malam favorit daerah jalan Soekarno Hatta (suhat), lanjut ke Apartemen, yang namanya mungkin sudah banyak orang tahu,” ungkap CF.
Secara umum, istilah ‘bungkus’ dapat digunakan pada tiga bentuk perbuatan. Pertama, cinta satu malam alias one night stand (ONS). Istilah tersebut ditujukan kepada pria yang mengajak perempuan berhubungan seks padahal baru pertama kali bertemu di tempat hiburan malam.
Menurut pengakuan CF, hubungan ONS benar-benar hanya satu malam karena setelah itu pasangan yang melakukan seperti orang yang tidak saling kenal. Jika bertemu di jalan atau tak sengaja berpapasan maka seperti angin lalu saja, seolah tak pernah terjadi apapun.
Kedua, ‘bungkus’ berarti mengajak perempuan yang sudah dikenal ke tempat dugem kemudian diakhiri dengan hubungan seks. Bentuk kedua ini, biasanya berlanjut pada pacaran meskipun jarang yang sampai pada tahap hubungan serius pada jenjang pernikahan.
“Ketiga, yang menurut ku parah itu, ada ‘bungkus’ yang istilah lainnya itu ngethanks (nge*e thank you). Kalau ini si pria benar-benar gak modal. Hubungannya bukan di apartemen, atau sewa tempat, tapi malah di kontrakan atau indekos. Paling si pria hanya modal traktir minum alkohol, ” ungkap CF.
Lain halnya dengan CF, FR (21), mahasiswa di salah satu kampus swasta mengaku beberapa kali pernah ngebungkus. Namun, masalah utama FR bukan soal bungkus, melainkan masalah finansial yang membuatnya harus putus kuliah.
“Kalau habis ONS memang kadang merasa bersalah. Namun saya merasa paling bersalah pada kedua orang tua karena harus putus kuliah akibat terjebak di dunia malam. Awal-awal dugem masih aman saja, pt-pt (patungan) dengan teman dari uang kiriman orang tua masih mencukupi,”
“Lama-kelamaan pas uang sudah gak cukup lagi buat dugem, sementara hasrat minum menggebu saya pun kecanduan bermain judi,” ungkap pria asal Banyuwangi yang pernah belajar di Malang ini.
Tak tanggung, FR bahkan pernah berhutang pada beberapa teman dan pinjaman online dengan nominal nyaris 100 Juta Rupiah. Ia pun kehilangan berbagai barang berharga, mulai dari sepatu kesayangan, Iphone, laptop, sampai motor.
“Barang-barang itu saya gadaikan ke teman, ada juga yang ke Pegadaian, karena gak kuat nebus akhir hilang. Saya sekarang fokus bayar hutang ke teman maupun ke pinjol, alhamdulillah hutang saya hampir lunas sisa sekitar 15 jutaan saja,” ungkap FR saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp.
Pada kesempatan berbeda, KE (24) perempuan asal Gresik mengaku beberapa kali mengalami pengalaman tidak mengenakkan selama pergi ke tempat hiburan malam. KE pernah dibungkus, tapi itu baginya sudah jadi hal lumrah. Salah satu pengalaman paling tidak mengenakkan ketika KE disuntik heroin secara serampangan oleh pria yang baru dikenalnya malam itu.
“Pas disuntik rasanya langsung blank, di sana saya misuh-misuh ke teman yang ngajak saya maupun ke orang yang menyuntik itu. Meskipun saya sudah kecanduan minum, tapi untuk narkoba saya gak mau merusak diri lebih buruk lagi. Apalagi setelah saya didiagnosa sakit liver stadium 1 akibat terlalu banyak alkohol,” ungkap mahasiswi di salah satu kampus swasta kota Malang ini.
Bagi ketiga pemuda yang merantau di kota Malang itu, tempat hiburan malam sudah menjadi bagian hidup dengan berbagai sisi lainnya. Menurut CF, misalnya, ada tiga alasan seseorang memutuskan pergi ke tempat hiburan malam.
Pertama, seseorang yang berasal dari keluarga konservatif dengan tradisi keagamaan yang kuat. Kedua, seseorang yang berasal dari keluarga dengan penuh kekangan sehingga timbul penasaran karena sering dipandang cupu atau sebelah mata. Ketiga, masalah pelik yang terjadi di keluarga.
“Sejauh ini teman-teman ku banyak yang nomor 3. Kalau aku sendiri 1 dan 2, awalnya cuma penasaran, saat sudah terpuaskan rasa pesaran ku itu sekarang akhirnya toh aku berhenti, sudah tiga bulan gak minum, gak tau nanti,” kata CF dengan tersenyum.
Namun, seperti yang diungkapkan KE, tempat hiburan malam tak selamanya berafiliasi dengan perilaku negatif. Di tempat dugem juga terkadang memberi dampak positif.
“Misalnya saja, saya pernah dapat pekerjaan di salah satu kantor pajak di kota Malang karena ketemu di tempat dugem. Saya juga bisa dapat banyak teman baru di sana, seru dan orang-orangnya tidak naif. Kalau saya pribadi, lebih baik seru-seruan di tempat hiburan malam, daripada kita harus menyerah pada kerasnya hidup,” ungkap KE, perempuan yang mengaku punya masalah pelik di keluarga dan pernah nyaris bunuh diri itu. (dan/ted)






