Blitar (beritajatim.com) – Tingkat ketergantungan penggunaan Handphone atau HP pada kalangan remaja dan anak di Blitar semakin mengkhawatirkan. Bahkan tidak sedikit anak yang masuk kategori kecanduan HP.
Kondisi itu membuat puluhan remaja dan anak di Blitar mengalami gangguan psikologis. Mereka pun terpaksa dibawa orang tuanya, ke psikolog yang ada di rumah sakit.
Data yang dimiliki oleh Poliklinik Psikologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi, hingga pertengahan tahun 2024 ini ada 60 warga Blitar yang menjalani pendampingan psikologi. Mayoritas dari mereka adalah remaja dan warga berusia produktif di bawah 30 tahun.
“Yang datang ke poli untuk mendapatkan penanganan psikologi bermacam-macam dari anak-anak hingga dewasa usia 30 tahun an. Adapun khusus remaja lebih banyak yang keluhkan soal cemas, gangguan mood hingga Bipolar,” kata Psikolog RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar, Yeni Rofiqoh, Sabtu (13/7/2024).
Saat datang ke psikolog, para remaja ini kebanyakan mengeluhkan soal kecemasan, gangguan mood hingga Bipolar atau gejala kesehatan mental. Bahkan mayoritas remaja yang mengalami gangguan psikologis ini kesulitan menjalin komunikasi secara verbal.
Hal itu disebabkan karena para remaja tersebut tidak bisa menjalin komunikasi dan relasi dengan sesama, akibat pengaruh penggunaan HP.
“Remaja-remaja ini kurang terlatih dalam membangun relasi sosial, jadi mereka ini justru banyak yang berkomunikasi melalui media sosial,” imbuhnya.
Gaya hidup remaja saat ini yang lebih suka menghabiskan waktu dengan HP dan media sosial, membuat mereka kaget dengan keadaan dunia nyata. Mereka yang tidak bisa menjalin komunikasi secara langsung dengan orang lain pun, tak jarang akan berujung pada gangguan psikologis.
“Ketika datang itu mereka banyak yang kesulitan berkomunikasi secara verbal. Sehingga saat harus berhubungan dengan baru muncul rasa cemas,” ungkapnya.
Sebenarnya HP bukan faktor tunggal yang membuat anak mengalami gangguan psikologis. Ada peran orang tua yang membuat anak mengalami gangguan psikologis.
Pola asuh orang tua yang membiarkan anak untuk menghabiskan waktu dengan media sosial dan HPnya tentu mendorong anak kesulitan dalam bergaul dan berujung pada gangguan psikologis. Saat ini kebanyakan orang tua tidak mau repot, sehingga ada persepsi cara termudah menyenangkan anak yakni dengan membiarkan buah hatinya bermain HP.
“Selain itu ada pola pengasuhan yang tidak tepat juga ada trauma emosi yang dirasakan oleh anak juga menjadi dorongan kuat anak mengalami gangguan psikologis,” tutupnya.
Konflik di lingkungan keluarga juga menjadi penyebab para remaja tersebut mengalami gangguan psikologis. Remaja atau anak yang tumbuh di keluarga broken home lebih berpotensi mengalami gangguan psikologis karena trauma emosi yang dialaminya. [owi/beq]






