Magetan (beritajatim.com) – Kasus Chikungunya yang ditangani Puskesmas Candirejo, Kecamatan/Magetan mencapai 54 kasus dalam dua bulan terakhir. Kasus terbanyak terdapat di Desa Baron, Kelurahan Kepolorejo, dan Desa Candirejo.
Untuk Desa Baron saja sudah ada 25 warga di dua RW pada yang mengalami demam tinggi dan nyeri sendi. Diduga mereka terinfeksi chikungunya akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus.
Kepala Desa Baron Sunoto bercerita chikungunya menyerang warganya sejak pertengahan bulan Januari lalu hingga puncaknya hari ini ada 17 orang terkena. Dia merinci, kasus awalnya muncul di RW 1, kemudian di RW 4 hingga ke RW 2.
“Total ada 25 orang. Terbanyak pada RW 2 ada sebanyak 17 warga. Kami sebenarnya telah meminta untuk dilakukan fogging tapi lambat direspon oleh Dinas Kesehatan. Akhirnya difasilitasi ketua DPRD Magetan Pak Sujatno,” kata Sunoto, Senin (27/02/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”magetan”]
Dia bersyukur, dari 25 kasus, tak ada warga kasus meninggal dunia. Yang masih menjalani rawat jalan berangsur sembuh. Meski sebagian warga yang terjangkit masih alami bengkak di tangan persendian dan tidak bisa jalan. “Semoga setelah di-fogging ini tidak ada lagi warga yang terjangkit,” harapnya.
Sementara itu, Sukarmi salah satu warga RW 2 yang terjangkit mengaku dia dan suaminya sempat tidak bisa jalan akibat seluruh persendiannya kaku. Tetangganya juga begitu, bahkan sempat memaki alat bantu untuk bisa ke kamar kecil.
“Saya mengalami penyempitan tulang belakang kemudian kena chikungunya, akhirnya tambah parah tidak bisa berjalan. Sekarang sudah lumayan sama bapaknya,” ungkap Sukarmi.
Terpisah, Sujatno Ketua DPRD Magetan yang hadir dalam fogging meminta dinas kesehatan untuk serius menangani khususnya di desa Baron dan Magetan keseluruhan agar tidak meluas.
“Kami minta dinas terkait agar merespon cepat. Jika di satu RW suatu desa ada yang kena, pencegahan nya jangan hanya di wilayah itu saja tetapi juga untuk di seluruh desa. Seperti Baron ini misalnya, pada RW 1 difogging tetapi di RW lainya nggak maka potensi muncul lagi, seperti sekarang ini meluas hingga RW 2 dan RW 4,” tegasnya. (fiq/kun)






