Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Prof Junaidi Khotib angkat bicara soal bahaya kandungan Bisphenol-A (BPA) pada galon, yang hingga kini masih beredar bebas.
Ia menjelaskan, BPA merupakan senyawa sintesis komponen pembentuk polimer polikarbonat. Jika BPA bereaksi dengan senyawa difenil karbonat, maka akan bertransformasi menjadi polikarbonat.
“Komponen BPA pada plastik polikarbonat akan mampu mempertahankan bentuk dan menjaga agar tidak mudah mengalami kerusakan,” ujar Prof Junaidi, ditulis Kamis (12/10/2023).
Ia menyebut, kandungan BPA dalam polikarbonat bisa bermigrasi ke makanan atau minuman yang ada dalam kemasan. Peristiwa ini terpengaruh oleh paparan cahaya matahari, suhu tinggi, hingga perubahan keasaman air.
Sementara itu, lanjut Dekan Fakultas Farmasi Unair tersebut, polikarbonat ternyata dalam penelitian juga terbukti merupakan senyawa pengganggu sistem endokrin (endocrine disruptor).
Sejumlah gangguan yang dapat terjadi pada sistem endokrin seperti diabetes melitus, kanker, tekanan darah tinggi, dan lainnya. Polikarbonat juga bisa menyebabkan gangguan fertilitas, mental, dan tumbuh kembang anak.
Prof Junaidi menyebut, pemerintah Indonesia telah menetapkan ambang batas senyawa BPA yang terlepas dari galon adalah tidak lebih dari 0,6 ppm. Tapi angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan negara Eropa.
“European Food Safety Authority (EFSA) menetapkan batas senyawa BPA yang terlepas kurang dari 0,05 ppm,” ungkap Prof Junaidi yang juga Anggota ahli Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tersebut.
Lebih lanjut, asupan harian yang bisa tubuh toleransi adalah kurang dari 0,0002 mikrogram/kg/hari. Penurunan ambang batas senyawa BPA yang terlepas dapat menjadikan makanan atau minuman lebih aman.
Sementara itu, jika sudah terlanjur menggunakan galon yang mengandung senyawa BPA, tidak menjadi masalah besar jika tidak mengalami gangguan tubuh. Tetapi penggunaan galon yang tidak mengandung senyawa BPA merupakan investasi kesehatan jangka panjang.
“Tidak apa-apa jika tidak mengalami gangguan karena itu perlu paparan jangka panjang. Namun, tidak ada kata terlambat untuk menjaga kesehatan lebih baik,” tutur Prof Junaidi.
Menurutnya, bahan pembuat wadah plastik yang aman saat ini adalah Polietilen Tereftalat (PET). Bahan ini bisa membuat wadah plastik tetap kokoh dan stabil. Wadah plastik yang mengandung BPA dapat terdeteksi dengan keterangan siklus yang bernomor 7 pada botol.
“Kalau nomor satu jelas PET. Wadah plastik dengan keterangan siklus nomor satu itu aman, kalau tujuh mengandung berpotensi mengandung BPA,” terangnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memberikan label terkait produk yang mengandung BPA. Ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan bagi masyarakat. Meski demikian, upaya ini tidak meniadakan penggunaan BPA.
“Upaya ini bukan untuk meniadakan BPA tapi mengatur penggunaannya sehingga keamanan masyarakat bisa terjaga. Utamanya dalam tumbuh kembang, sebab kualitas anak masa depan yang menentukan adalah kualitas mereka saat ini,” paparnya.
Lebih lanjut dikatakan Prof Junaidi, bahwa polemik mengenai galon yang mengandung BPA ini sejatinya sudah terjadi sejak lama. “Sebenarnya polemik ini pada 2020 lalu sudah ramai,” katanya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Pusat Halal Unair Bagikan Sertifikat untuk 1.974 UMKM






