Ngawi (beritajatim.com) – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Heri Nurfanudin, menyatakan puluhan santri Pondok Pesantren Al-Hijrah mengalami gejala serupa yang mengarah pada dugaan keracunan makanan. Para santri tersebut saat ini menjalani perawatan dan observasi di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Memang untuk anak-anak, khususnya yang ada di Pondok Al-Hijrah ini, yang kami deteksi itu tersebar di beberapa tempat. Mulai dari Puskesmas Ngawi Purba, kemudian Kasreman, Padas, maupun di Rumah Sakit Soeroto,” ujar Heri Nurfanudin, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, keluhan mulai dirasakan sejak sekitar pukul 00.00 WIB. Gejala yang muncul hampir sama pada seluruh pasien, yakni mual, muntah, pusing, sakit perut, demam, hingga diare. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan asupan makanan yang dikonsumsi sebelumnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, sebanyak 10 santri dirawat di Puskesmas Ngawi Purba, 12 santri di Puskesmas Kasreman, dan 36 santri di Puskesmas Padas. Selain itu, terdapat santri yang menjalani perawatan di RSUD Dokter Soeroto, dengan sebagian besar masih dalam status observasi.
“Total sementara yang kami data kurang lebih ada 60-an santri. Untuk dugaan awal, berdasarkan gejala memang mengarah ke keracunan makanan, namun kepastiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Heri.
Terkait sumber makanan, Heri menyebut para santri mengonsumsi beberapa jenis makanan dalam satu hari, mulai dari makanan pagi, menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat siang, hingga makanan dari pondok pada sore harinya. Hal ini membuat sumber pasti dugaan keracunan masih dalam penelusuran.
“Apakah dari MBG atau bukan, kami belum bisa memastikan. Karena hampir bersamaan, anak-anak juga makan dari pondok. Untuk itu kami menunggu hasil laboratorium,” tambahnya.
Usai menerima laporan sekitar pukul 09.00 WIB, Dinas Kesehatan Ngawi langsung melakukan langkah cepat berupa penanganan medis, tindakan preventif, serta pengambilan sampel. Sampel yang diamankan meliputi sisa makanan, lauk, serta sisa muntahan pasien.
“Sampel sudah kami ambil dan akan dikirim ke Surabaya untuk pemeriksaan laboratorium. Terkait asal SPPG penyedia MBG, saat ini masih kami telusuri dan akan kami sampaikan lebih lanjut,” pungkas Heri.
Hingga kini, petugas kesehatan masih melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan, mengingat tidak menutup kemungkinan jumlah santri yang mengalami keluhan serupa dapat bertambah. [fiq/kun]






