Ponorogo (beritajatim.com) – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) gelombang kedua yang terjadi di Kabupaten Ponorogo kini tembus di angka 300-an ekor. Data terakhir dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo tercatat ada 322 ekor sapi milik warga bumi reog yang terkena PMK.
Bahkan akibat terpapar penyakit tersebut, ada ternak warga yang mati. Jumlah sapi yang mati akibat terpapar PMK sebanyak 8 ekor.
“Pada PMK gelombang kedua ini, kecamatan Sawoo menjadi daerah yang banyak terjangkit. Sedikitnya ada 104 kasus ternak warga yang terkena PMK,” kata Kepala Dipertahankan Kabupaten Ponorogo Masun, Senin (20/2/2023).
Masun mengidentifikasi, ada 2 faktor yang menyebabkan PMK kembali merebak di Kabupaten Ponorogo. Yang pertama, peternak di Kabupaten Ponorogo mendatangkan hewan dari luar kota. Dimana hewan tersebut belum dilakukan vaksinasi PMK. Itu terlihat dari eartagnya belum menerima vaksin.
“Sapi memiliki eartag atau tanda pengenal. Nah, dari situ kita mengetahui sapi itu sudah divaksin atau belum. Kebanyakan yang mendatangkan dari luar kota itu hasilnya belum divaksin,” ungkap Masun.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-ponorogo”]
Kemudian faktor kedua ialah sapi yang sudah di Kabupaten Ponorogo, namun juga belum divaksin. Kebanyakan yang terkena ini, merupakan pemilik yang dulu pada PMK gelombang pertama enggan melakukan vaksinasi terhadap ternaknya tersebut.
Penolakan peternak terhadap vaksinasi sapi ini, terjadi di Kecamatan Sawoo, Bungkal dan Siman. Tidak heran jika daerah-daerah tersebut, angka terpaparnya cukup tinggi. “Jadi dulu ada peternak yang menolak vaksin, seperti di Kecamatan Bungkal, Sawoo dan Siman. Nah, kini di daerah itu kasus PMK-nya cukup tinggi,” katanya.
Efektivitas vaksinasi terhadap menghalau PMK, kata Masun terbukti terjadi di Kecamatan Pudak. Kecamatan yang berada di ujung timur Kabupaten Ponorogo itu, pada PMK gelombang pertama yang terpapar paling banyak hingga angka puluhan ribu ekor.
Sapi-sapi di sana sudah dilakukan vaksinasi 100 persen. Alhasil, ketika PMK gelombang kedua ini kembali melanda, kasus di Kecamatan Pudak sangat terkendali. Tercatat, hanya ada 1 ekor sapi di sana yang terpapar PMK.
Terlebih lagi, setelah ditelusuri, satu ekor sapi yang terjangkit PMK itu sebelumnya didatangkan dari luar kota. “Kecamatan Pudak itu 100 persen sudah divaksin. Kasus PMK-nya sedikit hanya ada 1 ekor saja. Sangat terkendali,” pungkasnya. [end/suf]






