Malang (beritajatim.com) – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali ditemukan di Kota Malang dan menunjukkan peningkatan signifikan. Data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang mencatat 43 kasus PMK sejak 2024 hingga awal Januari 2025.
Kabid Peternakan Dispangtan Kota Malang, Anton Pramujiono, menjelaskan bahwa 31 kasus terjadi pada 2024, tersebar di Kecamatan Kedungkandang dan Blimbing. Sebanyak 2 ekor sapi harus dipotong paksa, 25 ekor sembuh, dan empat lainnya masih dalam pengobatan.
Pada Januari 2025, terdapat 12 kasus baru. Salah satunya di Kelurahan Purwantoro akibat pergerakan ternak dari luar wilayah.
“Kami mendapati adanya sapi baru yang dibeli peternak dari Kabupaten Malang. Setelah digabungkan dengan sapi yang sudah ada, terjadi penularan,” ujar Anton, Selasa (7/1/2025).
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Dyah Ayu Oktavianie A. Pratama, M.Biotech., menekankan pentingnya vaksinasi rutin untuk mencegah penyebaran PMK. Menurutnya, virus PMK dapat menyebar melalui kontak langsung, udara, dan alat transportasi hingga jarak 10 kilometer.
“Vaksinasi harus dilakukan secara kontinu. Selain itu, edukasi kepada peternak juga sangat penting agar mereka paham dan sigap melakukan antisipasi jika gejala PMK muncul,” jelas Dyah.
Dyah menambahkan, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi peternakan menjadi kunci keberhasilan program pencegahan. Dengan langkah bersama, dampak ekonomi dapat diminimalkan, dan penyebaran penyakit bisa dikendalikan.
Sebagai respons, Dispangtan Kota Malang telah memberikan pengobatan, vitamin, obat cacing, dan disinfektan kepada peternak. Anton juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan program vaksinasi massal dan terus mengedukasi masyarakat terkait pengendalian PMK.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan asosiasi dokter hewan. Vaksinasi massal akan segera dilaksanakan,” ungkap Anton.
Suwadji, peternak asal Kelurahan Purwantoro, berharap pemerintah segera bertindak. “Saya punya enam ekor sapi, dan wabah ini sangat mengkhawatirkan. Saya berharap vaksinasi segera dilakukan agar tidak ada lagi ternak yang terjangkit,” ujarnya.
Menurut Dyah Ayu Oktavianie, PMK memang menyerang hewan berkuku genap seperti sapi, kambing, dan babi dapat berdampak besar pada sektor peternakan. Oleh karena itu, peternak diimbau untuk melapor jika ternak mereka menunjukkan gejala seperti luka pada mulut atau kaki, agar penanganan dapat segera dilakukan.
“Melalui vaksinasi massal dan edukasi intensif, diharapkan wabah PMK di Kota Malang dapat terkendali, sehingga tidak menyebar ke wilayah lain dan menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar,” ujar Dyah menutup wawancara dengan beritajatim.com, beberapa waktu lalu. [dan/aje]






