Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus perundungan di SDN 1 Kaliacar, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, yang sempat memicu kegaduhan publik setelah videonya tersebar luas di media sosial, akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak keluarga para siswa terlibat sepakat berdamai dalam mediasi yang difasilitasi Polsek Gading.
Kepala SDN 1 Kaliacar, Evy Susanty, mengungkapkan insiden itu pertama kali terjadi pada Rabu (12/11/2025), meski pihak sekolah baru menerima laporan pada Jumat (14/11/2025). Begitu mendapat informasi, sekolah langsung berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangani persoalan tersebut secara terbuka dan melibatkan semua pihak.
“Mediasi dilakukan keesokan harinya di Mapolsek Gading. Semua pihak hadir dan proses berjalan kondusif,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Evy menjelaskan peristiwa bermula sejak Senin (10/11/2025). Korban berinisial D meminjam buku milik A, teman dekat pelaku E (12). Saat buku dikembalikan, A menjambak rambut D. Merasa tersinggung, D mengucapkan kalimat yang dinilai menyinggung, memicu reaksi keras dari E yang kemudian memukul korban.
Dua hari setelahnya, usai para siswa bermain voli, E kembali melakukan tindakan serupa. Momen inilah yang terekam dalam sebuah video amatir dan membuat keresahan setelah viral di media sosial.
Dalam rekaman itu tampak sejumlah remaja lain yang diketahui siswa SMP setempat. Mereka tidak seluruhnya terlibat, tetapi berada di lokasi saat aksi perundungan berlangsung.
Evy menegaskan kejadian itu sepenuhnya terjadi di luar jam pelajaran. Setelah proses mediasi, seluruh aktivitas sekolah kembali berjalan normal. Siswa yang terlibat pun telah mengikuti pelajaran seperti biasa.
“Tidak ada lagi ketegangan di antara mereka. Anak-anak sudah kembali akrab dan berinteraksi normal,” tambahnya.
Kanit Reskrim Polsek Gading, Aipda Romli, memastikan kasus ini benar-benar ditutup melalui kesepakatan damai. Tidak ada pihak yang melanjutkan ke ranah hukum, termasuk mengenai penyebaran video yang sempat viral.
“Semua pihak sepakat berdamai dan tidak memperpanjang persoalan, baik soal kejadian maupun video yang beredar,” tegas Romli.
Pihak sekolah berharap insiden ini menjadi peringatan bagi orang tua dan siswa mengenai pentingnya pengawasan, komunikasi, serta pendidikan karakter untuk mencegah perundungan di lingkungan sekolah. (ada/ian)






