Yogyakarta (beritajatim.com) – Belakangan ini pemberitaan dikejutkan oleh aksi pembunuhan sadis yang dilakukan di Yogyakarta beberapa pekan lalu dan terbaru di Jombang Jawa Timur. Pembunuhan yang dilakukan dengan cara mutilasi (pemotongan organ tubuh) menjadikan aksi lebih sadis dan tidak beradab dibandingkan hanya dengan pembunuhan biasa.
Ironisnya lagi rata rata korban dan pelaku adalah korban yang masih berusia muda. Mengapa generasi muda saat ini cenderung lebih kejam dan melakukan segala sesuatu secara instan dan terkesan hanya mengambil jalan pintas tanpa memahami risiko jangka panjang?
Psikolog yang juga Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Nia Kusuma Wardhani, M.Psi., mengungkapkan penyebab generasi muda saat ini mendadak menjadi kejam dan menanggalkan empati, salah satunya karena emosi yang masih labil. Mereka tidak mampu mengontrol emosi dari tumpukan dorongan sakit hati yang tidak disadari lama kelamaan.
Faktor dari ketidakmampuan kelola emosi ini penyebabnya banyak faktor yang terjadi seperti aksi bullying, minim support keluarga, lingkungan dan lainnya. Namun pengelolaan emosi ini sering disepelekan.
“Banyak orang tidak mengenal emosinya mengapa tiba tiba menjadi badmood seperti mengapa tiba tiba menangis uring-uringan marah dan sebagainya yang dampaknya ke orang lain yang menjadi korban seperti keluarga teman dan orang terdekat,” jelas Psikolog asal Bendul Merisi Surabaya ini.
Pola sekian lama dan berlangsung terus menerus serta pola rasa kecewa terhadsp sesuatu hal menjadi beban pikiran bertumpuk dalam jangka waktu lama yang ketika diluapkan menjadi rentan membahayakan dan rentan ada tindakan nekat terjadi.
BACA JUGA:
Kasus Mutilasi di Jombang: Dianiaya Dulu, Dihabisi Kemudian
Nia sapaan akrabnya menganalisa hampir dipastikan pudarnya rasa empati dan generasi muda menjadi lebih kejam saat ini faktor utamanya adalah media sosial.
“Termasuk untuk kasus mutilasi jika kita cari di YouTube banyak semacam tutorial shortcut adegan memotong jenazah atau bagaimana cara berkelahi seperti tayangan smackdown dan sebagainya. Jika tontonan ini menjadi hal yang biasa ditonton anak sedari kecil tak heran jika nantinya setelah besar akan minim empati serta melihat adegan demikian adalah hal yang biasa,” imbuhnya.
Ia kemudian mencontohkan saat ini juga marak iklan menawarkan kemudahan meminjam uang dengan Pinjol yang dengan iklan mudah memiliki barang mewah dengan akses pinjol.
“Kondisi ini sangat berbahaya karena orang dituntut kudu alias harus memiliki barang ini bagaimanapun caranya dengan instansi tanpa paham kondisi. Yang terjadi adalah sikap kalap terbawa emosi melakukan apapun segala cara untuk mendapatkan sesuatu,” beber jebolan Magister Psikologi UGM ini.
Untuk menumbuhkan sikap empati dan meminimalkan menjadikan generasi muda kejam dan tega perlu menumbuhkan nilai di keluarga adalah hal utama.
“Sejak dini didik anak untuk mengetahui mana benar mana salah mana yang baik mana yang melanggar aturan. Dan terus berikan jimat 3 kata yakni Maaf, Terimakasih dan Tolong. 3 kata ini penting menumbuhkan empati diri anak,” jelas Nia.
Selanjutnya anak diajari mengelola dan mengenal emosinya sendiri seperti sedih, marah, kecewa, bahagia dan senang. Hal ini supaya mereka bisa mengenal dirinya dan merespon berbagai emosi dan menemukan sumber emosi.
BACA JUGA:
Mutilasi di Jombang: Selain Kepala, Organ Dalam Korban Juga Hilang
“Seringkali anak ditekan dan distigma oleh orangtuanya sendiri yang seharusnya menjadi suport utama seperti kamu cengeng, gitu aja sedih dan sebagainya. Ini pola yang sering keluarga lakukan. Kemudian sejalan dengan waktu menjadi inner child ada luka ini terus menerus membekas sampe dewasa,” tambahnya.
Nia menambahkan ajari anak untuk berempati dengsn apa yang bs anak lakukan seperti membantu orangtua tetapi tidak dengan memerintah. Atau memberikan respon empati kepada teman saat ada masalah atau kesulitan.
Dari sekian banyak yang utama adalah pemahaman nilai agama masing masing adalah hal terpenting dalam pola pengasuhan anak. Semua agama mengajarkan kebaikan.
Di bagian lain, Nia menyatakan konsep dasar pendidikan Budi Pekerti idealnya dan paling efektif diberikan pada pendidikan dasar yakni TK dan SD. Sementara pendidikan lanjutan sudah tinggal meneruskan dengan berbagai tantangan yang kompleks. [aje/beq]






