Bondowoso (beritajatim.com) – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bondowoso semakin mengkhawatirkan. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Tuberkulosis (TB) dan HIV Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, mengungkapkan bahwa penyebaran virus ini telah merembet ke kalangan pelajar.
“Sudah ada anak sekolah yang terdeteksi positif HIV. Karena itu, sejak November 2023 kami mulai melakukan edukasi ke sekolah-sekolah tingkat SMA,” ungkap Funky pada BeritaJatim.com, Sabtu (1/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa salah satu temuan terbaru berasal dari kelompok lelaki sesama lelaki (LSL). Kasus tersebut terungkap setelah Pokja melakukan pendekatan dan screening terhadap seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun pada Mei 2023, yang akhirnya dinyatakan positif HIV.
“Tahun 2024 saja, ada penambahan kasus sekitar 84 hingga 92 orang, dan hampir 50 persen di antaranya dari kelompok LSL,” terangnya.
Menurut Funky, peningkatan kasus ini harus menjadi perhatian lintas sektor, bukan hanya Pokja saja. Ia menekankan pentingnya keterlibatan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan dalam menangani permasalahan ini.
“Kami sebenarnya sudah berencana untuk melakukan hearing dengan Komisi IV DPRD Bondowoso, tapi hingga kini responnya masih kurang,” keluhnya.
Funky juga mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki data mengenai lokasi tempat nongkrong kelompok LSL dan lesbian di Bondowoso. Namun, penanganan terhadap kelompok tersebut terkendala aturan.
“Aturannya, penertiban dilakukan Satpol PP. Kita ini susah dalam pendekatan karena sudah ada Peraturan Bupati (Perbup). Tahun lalu, data kami mencatat ada 729 LSL di Bondowoso, baik yang positif maupun negatif HIV,” bebernya.
Secara keseluruhan, jumlah kasus HIV di Bondowoso telah mencapai sekitar 1.500 orang. Funky menilai kondisi ini sudah dalam tahap darurat, terutama karena telah menyentuh kalangan anak-anak sekolah. “Ketika kami melakukan pendampingan, kami juga menelusuri siapa saja yang bergaul dengan pasien positif HIV. Ini penting untuk memutus rantai penyebaran,” pungkasnya. (awi/kun)






