Pacitan (beritajatim.com) – Kasus dugaan pelecehan seksual di salah satu SMP di Pacitan terus bergulir. Kepala SMPN 1 Pacitan, Tjatur Heri Subagjo, membantah adanya anak pejabat yang terlibat sebagai korban dalam kasus ini.
“Bukan, bukan. Itu (anak pejabat) justru menjadi korban bullying karena dituduh melapor,” jelas Tjatur Jum’at (19/9/2025).
Tjatur menyayangkan pembuatan video dan beredarnya video yang menampilkan siswa menangis karena guru yang diduga melakukan pelecehan dipindahkan. Menurutnya, masalah ini seharusnya bisa diselesaikan secara internal tanpa perlu dipublikasikan.
“Saya menyayangkan adanya video itu, karena sebetulnya masalah itu bisa diselesaikan, tidak justru disebar ke mana-mana,” ujarnya.
Dia pun tidak mengetahui siapa yang merekam video itu apakah siswa maupun guru. “Saya saat itu sedang menerima tamu Pak Wahyono Dinas Pendidikan, kalau secara aturan tidak diizinkan siswa membawa handphone ke sekolah,” Jelasnya lagi
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan, Rino Budi Santoso, menambahkan bahwa dari lima pelapor, salah satunya merupakan orang tua yang bekerja sebagai pegawai Bank di Pacitan, Warga Sumberharjo dan Baleharjo, Pacitan.
Rino juga menyayangkan viralnya video tersebut, yang dianggapnya menjadi bumerang bagi pihak sekolah. “Kita menerbitkan SPT itu silent ya, agar semua aman, namun justru dibuat skenario, dibuat booming,” ungkapnya.
Rino menjelaskan bahwa Surat Perintah Tugas (SPT) yang diberikan kepada guru yang bersangkutan bersifat sementara. Status guru tersebut masih sebagai guru SMPN 1 Pacitan.
“SK itu tetap di SMP 1 Pacitan. Harapannya ya nanti suatu saat nanti kalau sudah mungkin reda, sudah ini kembali lagi ke SMP 1,” katanya.
Terkait kelanjutan kasus ini, Rino mengatakan bahwa proses kepegawaian terus berjalan sesuai rekomendasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana, dan Perlindungan Anak (PPKB PPPA) Kabupaten Pacitan. (tri/ian)






