Magetan (beritajatim.com) – Kasus diare di Kabupaten Magetan sejak Januari hingga Juli 2025 tercatat terus bermunculan dengan tren cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes), jumlahnya mencapai 871 kasus pada Januari, 734 kasus Februari, 725 kasus Maret, 726 kasus April, 667 kasus Mei, 845 kasus Juni, dan melonjak pada Juli hingga 936 kasus. Angka di bulan Juli ini menjadi yang tertinggi sepanjang tujuh bulan terakhir.
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Magetan, Agoes Yudi Purnomo, mengatakan kondisi cuaca musim kemarau basah turut memengaruhi daya tahan tubuh masyarakat. Namun, penyebab utama tetap pada rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga pola makan sehat dan higienis.
“Penyebab utamanya karena kesadaran masyarakat terhadap pengolahan pangan yang bersih dan sehat masih rendah, mulai dari perlakuan bahan mentah, pengolahan, sampai penyajian,” ujarnya, Jumat (22/8).
Ia mencontohkan masih banyak pedagang yang meletakkan sayur dan buah di lantai kotor, menjual telur retak, hingga memajang daging ayam terbuka berjam-jam tanpa pendingin. Selain itu, ada pula makanan yang dimasak tidak matang sempurna, penjamah makanan dalam kondisi sakit, serta makanan yang tetap dijajakan meski sudah basi.
Menurut Agoes, perilaku cuci tangan pakai sabun sebelum makan juga belum menjadi kebiasaan semua orang. “Penyajian makanan di warung terbuka membuat makanan rentan dihinggapi lalat. Untuk bungkus makanan sebaiknya menggunakan kertas baru, bukan kertas bekas buku atau arsip,” tegasnya.
Ia juga menyoroti jajanan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar sekolah. Banyak dari mereka menggunakan saus atau sambal kualitas rendah demi harga murah, serta berjualan tanpa mencuci tangan meski sebelumnya memegang uang.
“Ini sangat berisiko bagi kesehatan anak-anak sekolah yang jadi konsumen utama. Maka kami minta kesadaran bersama untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” pungkasnya. [fiq/aje]






