Madiun (beritajatim.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Madiun kembali menuai sorotan. Belum reda ingatan publik terkait keracunan massal siswa SDN di Mejayan akibat nasi goreng basi serta temuan roti berjamur di sejumlah SPPG, kini menu bakso yang diduga basi ditemukan di SDN 1 Gandul, Kecamatan Pilangkenceng.
Menu bermasalah tersebut berasal dari SPPG Kenongorejo Yayasan Pendidikan Adzkia Kare Madiun. Pada Selasa (20/1/2026), SPPG tersebut mendistribusikan paket MBG berupa bakso lengkap dengan mi, sawi hijau, tahu, dan buah salak. Namun, bakso sapi dalam paket tersebut tercium bau tidak sedap dan diduga sudah tidak layak konsumsi.
Ironisnya, makanan tersebut sempat dibagikan kepada siswa sebelum akhirnya ditarik kembali oleh pihak sekolah setelah diketahui kondisinya bermasalah. Total 99 porsi yang sedianya akan dikonsumsi siswa akhirnya dibatalkan demi mencegah risiko kesehatan.
“Sempat dibagikan ke anak-anak, tetapi setelah kami cek dan tercium bau tidak sedap, bakso langsung kami tarik kembali dan tidak jadi dikonsumsi,” ujar Hendri Siswanto, salah satu guru SDN 1 Gandul.
Ia menegaskan, pihak sekolah memilih bersikap cepat demi keselamatan siswa. “Kami tidak mau mengambil risiko. Keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Hendri berharap, kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. “Kami berharap ke depan pengelolaan MBG benar-benar dievaluasi, mulai dari proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru membahayakan anak-anak,” katanya.
Langkah sigap pihak sekolah patut diapresiasi. Namun demikian, kejadian ini justru menambah panjang daftar persoalan MBG di Kabupaten Madiun yang hingga kini dinilai belum menemukan solusi konkret.
Sebelumnya, publik dikejutkan oleh kasus keracunan massal akibat nasi goreng basi dari SPPG Cinta Anak Klecorejo yang menimpa puluhan siswa di tiga SDN Kecamatan Mejayan. Tak berselang lama, roti berjamur juga ditemukan di SPPG Assalam Desa Purworejo, Kecamatan Geger. Bahkan, muncul dugaan roti isi sosis berlendir dan berbau busuk yang nyaris dikonsumsi anak-anak TK di Sidorejo.
Kini, temuan bakso yang diduga basi kembali mencuat dan mempertegas lemahnya pengawasan kualitas serta keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Masyarakat pun mulai mempertanyakan keseriusan pengelola SPPG maupun pengawasan dari pihak terkait terhadap jalannya program tersebut.
Program yang sejatinya bertujuan menjamin kecukupan gizi anak justru berulang kali menghadirkan ancaman bagi kesehatan mereka. Jika kasus serupa terus terjadi tanpa evaluasi menyeluruh, MBG di Madiun dikhawatirkan berubah dari program strategis menjadi potensi bahaya bagi keselamatan siswa.
Ke depan, para pendidik dan masyarakat berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat dikelola secara lebih profesional, variatif, serta mengutamakan kualitas dan keamanan pangan. Evaluasi menyeluruh, pengawasan ketat, dan peningkatan standar pengolahan makanan dinilai mutlak diperlukan agar tujuan utama MBG meningkatkan gizi dan kesehatan anak benar-benar terwujud tanpa kembali menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan pihak sekolah. [rbr/aje]






