Gresik (beritajatim.com) – Di tengah derasnya arus modernisasi, suara alat tenun tradisional nyaris tak terdengar lagi di Desa Kambingan, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Desa yang pernah berjaya sebagai sentra sarung tenun ini kini menyisakan sedikit pelaku usaha yang bertahan. Salah satunya adalah Kasturi (70), pengrajin sarung tenun yang tetap teguh menjalankan tradisi di usia senja.
Kasturi memulai usahanya secara mandiri sejak 1989, usai keluar dari pabrik tenun terbesar di Gresik. Bermodalkan keterampilan menenun dan tekad kuat, ia menggandeng 30 penenun lokal—sebagian besar perempuan lansia—untuk menghidupkan kembali tradisi sarung tenun ikat.
“Awal memulai usaha sendiri memang berat, tapi saya tetap semangat dan bekerja keras supaya hasil usaha tenun menjadi milik kami sendiri,” ujarnya, Sabtu (31/5/2025).
Pada masa kejayaannya sekitar tahun 1998, sarung tenun produksi Kasturi sempat menembus pasar luar negeri seperti Arab Saudi dan Somalia. Namun, seiring waktu, kejayaan itu mulai meredup, terutama setelah dihantam pandemi COVID-19 dan melonjaknya harga bahan baku sutra yang kini mencapai Rp 5,3 juta per 5 kilogram.
Kini, produksinya hanya menyasar pasar lokal seperti Surabaya, Jember, dan kota-kota di Jawa Timur. Dalam sehari, Kasturi dan timnya mampu menenun sekitar 60 potong kain. Harga sarung tenun tradisional dibanderol mulai dari Rp 175 ribu untuk jenis goyor hingga Rp 300 ribu untuk jenis es lilin berbahan sutra.
Namun, tantangan tidak berhenti pada pasar dan bahan baku. Minimnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha ini menjadi kekhawatiran tersendiri.
“Anak-anak muda sekarang lebih memilih kerja di pabrik karena gaji lebih besar dan jam kerja jelas,” keluhnya.
Sebagian besar pekerjanya kini adalah perempuan lanjut usia yang terkadang absen karena panen atau mengasuh cucu. Ditambah, pemasaran masih sangat terbatas, hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan komunikasi via telepon.
“Saya akui kami tidak bisa masuk ke pasar online karena tidak ada yang membantu,” ucap Kasturi.
Meski dihadapkan banyak tantangan, Kasturi tetap teguh. Baginya, menenun bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan budaya yang harus dijaga.
“Selama saya masih diberi nafas meski di usia senja. Saya masih sanggup terus menenun. Sebab, ini jalan hidup saya hingga sekarang,” tutupnya. [dny/beq]






