Yogyakarta (beritajatim.com)- Karateka cilik asal Yogyakarta. Jasmine Ashadiya Gunarto yang mukim di Timoho Yogyakarta meraih Juara 3 Girls Individual Kata 10-11 Years Old, dan Juara 2 Girls Individual Kumite 10-11 Years Old 40 Kg di event 15th Silent Knight International Karate Cup 2026. Lomba diadakan di Stadium Titimangsa Kuala Lumpur 17-19 April 2026.
Lomba tersebut diikuti 500 peserta dari berbagai negara. Yaitu Malaysia,Indonesia, Singapura, Sri Langka, Thailand, dan India. Kategori yang diikuti Jasmine, peserta 35 orang.
Keberhasilan itu membahagiakan Jasmine.
“Saya senang karena bisa bikin bangga orang tua. Lawan terberat tidak ada. Cuma bingung saja saat ketemu lawan yang kidal,” papar Jasmine, siswi SD Muhammadiyah Sapen 1 Yogyakarta.
Prestasi internasional itu makin menderet penghargaan yang telah diterima Jasmine. Putri Arjunadi dan Brigita Kingkin Pitaningrum ini sebelumnya telah mengoleksi medali dan piagam penghargaan Juara 2 Kumite dan Juara 2 Kata Kejurda FORKI DIY 2025, Juara 1 Kata dan Juara 1 Kumite KejurdaINKAI DIY 2025, Juara 2 Kata Gadjah Mada Open International 2025, Juara 1 Kumite YOT International 2025, dan Juara 1 Kumite PORSISWA SD Kota Yogyakarta 2025.
Menurut Arjunadi, keikutsertaan Jasmine di event internasional karena ingin merasakan event yang berbeda.
“Kejuaraan itu diikuti usia dini hingga senior. Karateka cilik dari Yogya hanya Jasmine. Yang senior, ada dari UGM. Ternyata memang ada beda style permainan. Ini pengalaman baru buat perbaikan ke depan,” ungkap Arjunadi.
Mama Jasmine yang mendampingi ke Malaysia, Brigita menerangkan, saat final melawan Malaysia, poin sama. Namun wasit harus memilih salah satu, dan lawan Jasmine yang dipilih sebagai pemenang.
“Usai pertandingan, wasit menghampiri Jasmine, memuji permainannya bagus. Namun dia harus memilih salah satu,” kata Brigita yang sempat mevideo momen itu.
Jasmine menggeluti karate sejak TK. Mulai serius sejak kelas 3 SD. Terinspirasi kakaknya, Fairuz Thariq Hammani, karateka remaja sarat prestasi. Tiga tahun berlatih intens, kemampuan Jasmine meningkat. Dukungan keluarga, pun pengorbanan Jasmine berkontribusi mematangkan kemampuan.
Diterangkan Arjunadi, Jasmine berlatih seminggu 11 kali.
“Bangun Subuh, trus meluncur di Sandfish Karate Academy di Almahyra Training Camp Pangukan Sleman. Sebelum pukul 07.00 meluncur ke sekolah. Sore pukul 16.00, kembali berlatih sampai pukul 18.00. Kami juga menjaga makanan,” papar Arjunadi.
Jasmine yang lahir pada 17 September 2014 berprinsip:
Man jadda wajada (siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil).
“Saya semangat. Pokoknya latihan, latihan, dan latihan,” tegas Jasmine yang bercita-cita jadi dokter.
Risiko sebagai atlet telah disadari Jasmine. Berdarah, tubuh biru-biru, jempol kaki retak, pernah dialami. Namun Jasmine yang dilatih Isfan Alfredatama, jalan terus. Berlatih keras demi menoreh prestasi tertinggi lagi, dan lagi.
Diungkap Brigita, anak-anak Sandfish Karate Academy beruntung karena mempunyai role model jelas yang dikreasi Tiara Sandi.
“Tiara Sandi atlet timnas junior karate Indonesia sejak 2021. Masih bertahan hingga hari ini. Selain sebagai role model badi adik-adiknya, Tiara Sandi tidak pelit berbagi imu dan pengalaman saat bertanding di berbagai negara,” ucap Brigita.[aje]






