Yogyakarta (beritajatim.com)– Jumlah penderita kanker ginjal dilaporkan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data GLOBOCAN yang berada di bawah koordinasi World Health Organization menunjukkan bahwa kanker ginjal menyumbang sekitar 4,8 persen kasus kanker pada laki-laki secara global. Angka tersebut menempatkannya di posisi ketujuh dari seluruh jenis kanker yang paling banyak diderita pria.
Fenomena ini menjadi perhatian karena tren usia penderita juga semakin muda. Kanker ginjal dikenal sebagai “silent disease” karena sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Sorotan publik terhadap penyakit ini juga meningkat setelah meninggalnya penyanyi Vidi Aldiano di usia 35 tahun akibat kanker ginjal yang telah diidap sejak 2019.
Dokter Spesialis Urologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Dr. dr. Ahmad Zulfan Hendri, Sp.U(K), menjelaskan bahwa kanker ginjal bukan penyakit menular. Penyakit ini umumnya berasal dari jenis tumor clear cell atau sel jernih yang terlihat transparan di bawah mikroskop.
“Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi faktor risiko sangat berkaitan dengan gaya hidup, seperti merokok, hipertensi, pola makan tinggi garam, serta obesitas akibat metabolisme tubuh yang rendah,” jelasnya.
Meski tidak sepenuhnya bersifat genetik, seseorang dengan riwayat keluarga penderita kanker ginjal memiliki risiko hingga dua kali lipat lebih tinggi. Risiko juga meningkat pada individu dengan gangguan fungsi ginjal sebelumnya.
Zulfan menegaskan, tantangan terbesar dalam penanganan kanker ginjal adalah keterlambatan diagnosis. Sebagian besar pasien datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi sudah memasuki stadium menengah hingga lanjut.
“Pada tahap awal hampir tidak ada gejala khas. Itu yang membuat banyak orang terlambat menyadari,” ujarnya.
Gejala biasanya mulai terasa ketika penyakit berkembang, seperti munculnya darah dalam urine, benjolan di area pinggang, serta nyeri atau pegal yang kerap diabaikan.
Untuk itu, ia menyarankan masyarakat terutama yang memiliki faktor risiko agar rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti ultrasonografi (USG) dan medical check-up setidaknya setahun sekali. Deteksi dini dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Dalam penanganan, terdapat dua pendekatan utama. Jika tumor masih berukuran kecil (di bawah 7 cm) dan belum menyebar, tindakan operasi pengangkatan menjadi pilihan utama. Namun, jika kanker telah menyebar, terapi difokuskan pada pengendalian pertumbuhan sel untuk memperpanjang harapan hidup pasien.
“Kanker itu bersifat semi-emergency. Kita berpacu dengan waktu. Semakin terlambat ditangani, semakin besar peluang penyebarannya,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, menjaga pola makan seimbang, cukup istirahat, serta menghindari rokok dan alkohol. Jika ditemukan indikasi kanker pada tahap awal, pasien disarankan segera mengikuti program penanganan dari dokter. [aje]






