Jakarta (beritajatim.com) – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menyesalkan kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk Pemilu 2024 masih disibukkan urusan popularitas saja. Padahal, para kandidat seharusnya memiliki ide dalam mengelola situasi krisis global.
“Para capres dan cawapres yang akan berkontestasi harus punya ide yang bisa ditawarkan, yang bisa membawa Indonesia melampaui fase krisis saat ini. Sehingga bangsa ini bisa melakukan lompatan besar menjadi negara maju baru, sebagai kekuatan global baru,” kata Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik.
Mahfuz meminta agar para capres tidak hanya ‘jumping’ dengan mengangkat tema-tema permukaan yang bertujuan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya saja.
“Masyarakat disibukkan dengan tema-tema permukaan, termasuk dalam memilih pemimpin. Kita jumping tentang figur yang paling favorit, kita lupa dengan ide apa yang dibutuhkan Indonesia ketika nanti ada pergantian kepemimpinan di 2024,” katanya.
Dia berpendapat, perlu upaya memitigasi tren perubahan global dan bisa menjadi bahan pengambilan kebijakan politik agar Indonesia tidak lagi menjadi collateral damage atau sandwich di tengah tekanan pertarungan kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Pemilu-2024″]
“Dalam sejarahnya Indonesia selalu menjadi collateral damage, menjadi sandwich di tengah pertarungan kepentingan kekuatan global. Kita tidak ingin menjadi collateral damage lagi, kita harus mengelola situasi krisis sekarang untuk kepentingan kita,” katanya.
Mahfuz pun sependapat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan Pidato Kenegaraan di DPR pada 15 Agustus 2022 lalu, bahwa Indonesia harus bisa ‘membajak krisis’ saat ini dan mampu melakukan lompatan besar disaat negara-negara lain tengah terpuruk akibat krisis ekonomi.
“Jadi apa yang disampaikan Presiden Jokowi sejalan dengan pikiran Partai Gelora yang sejak 2 tahun lalu, yang secara konsisten kita suarakan ke tengah-tengah masyarakat, bahwa kita harus mampu mengambil benefit dari krisis saat ini. Itulah sebenarnya yang kita maksud dengan Arah Baru Indonesia,” katanya. [hen/beq]






