Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 3.643 mahasiswa di Jawa Timur bakal terjun ke sekolah-sekolah untuk mengikuti program Kampus Mengajar oleh Ditjen Diktiristek.
Puluhan ribu mahasiswa tersebut akan melakukan praktek di sekolah tingkat SD maupun SMP yang berada di 38 kabupaten/kota di Jatim yang sudah ditentukan sesuai dengan kriteria.
Di Jatim sendiri, Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jatim ditunjuk sebagai Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) yang akan melakukan monitoring kepada kegiatan Kampus Merdeka.
Sujarno, Kepala BBPMP Provinsi Jatim menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai upaya untuk mendukung pemulihan pembelajaran dan membangun ekosistem literasi di SD dan SMP.
Nantinya, para peserta diharapkan mampu memberikan warna baru dalam proses pembelajaran berbasis digital, dan tentunya menyenangkan. “Jadi, bagaimana mahasiswa ini memotivasi para guru untuk menggunakan teknologi dalam pembelajaran,” kata Sujarno, Kamis (10/8/2023).
Sujarno menyebut bahwa para peserta ini harus mampu menjadi pelopor terkait penggunaan teknologi dalam pembelajaran serta menumbuhkan literasi. Artinya, mahasiswa tidak hanya ikut apa yang dikatakan oleh guru atau kepala sekolah.
“Tetapi juga memperngaruhi atau memberi warna di sekolah itu tentang bagaimana pemanfaatn teknologi, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan di sekolah itu,” jelasnya.
Ditambahkan Sujarno, nantinya ribuan mahasiswa itu akan disebar ke sekolah-sekolah yang tingkat literasinya berada pada level 1 dan level 2. Mereka nanti akan menyusun rencana tindak lanjut (RTL) untuk menjalankan program Merdeka Mengajar.
“Kami akan melakukan monitoring ke lokasi tempat peserta mengajar. Hal itu dilakukan untuk memastikan peserta melaksanakan tugas sesuai dengan RTL yang sebentar lagi akan disusun,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika peserta Kampus Mengajar di Jatim menjadi yang terbanyak di antara wilayah lain. Setidaknya ada 3.643 mahasiswa di Jatim dari 21.409 mahasiswa di seluruh Indonesia yang mengikuti program ini. “Mereka akan disebar di 734 SD dan SMP di Jatim,” jelas Sujarno.
BACA JUGA:
UB Jadi Kampus Pertama dengan Internet Berkecepatan 100 Gbps
Sementara itu, salah satu peserta asal STKIP PGRI Trenggalek, Della Novita Savitri mengungkapkan tujuan mengikuti kegiatan ini untuk menambah wawasam dalam mengajar.
“Program ini sudah saya tunggu sejak semester 3. Saya juga PGSD. Saya ingin apa yang saya pelajari hingga semester 5 ini bisa diaplikasikan langsung,” kata Della.
Della mengaku, akan memfokuskan materi literasi dan numerasi, lantaran murid-murid SDN 3 Depok, Trenggalek tempatnya mengajar masih memiliki literasi yang terbilang tertinggal.
“Fokusnya akan ke literasinya karena di sana kecakapan literasi anak-anaknya masih tertinggal dibanding lainnya,” katanya.
BACA JUGA:
Rocky Gerung Jadi Pembicara di Kampus Undar Jombang, Ada Aksi Penolakan
Berbeda dari Kampus Mengajar angkatan sebelumnya, angkatan ke-6 ini bisa memilih di sekolah mana tempat mereka mengajar. Begitu pula dengan Della yang akhirnya memilih sekolah di dekat tempat tinggalnya yakni, Trenggalek.
“Jadi, saya memilih sekolah yang dekat tempat tinggal saya, karena saya ingin sambil mengajar juga bisa kuliah,” tandas Della. [ipl/but]






