Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) meluluskan 767 wisudawan pada Wisuda Periode XIV, Minggu (10/03/2024), di Gedung Samantha Krida. Dari jumlah tersebut lima diantaranya difabel, yaitu Hafiz Ilmi, A.Md.Kom, Hafiza Kartikasari, A.Md.Kom, Endjie Apta Martiazharine, A.Md.Kom,. Rizkya Adin Ardiansyah,A.Md.Kom., dan Dimas Dadyo Wicaksono, S.Sos.
Hafiz Ilmi, lulusan Fakultas Vokasi Program Studi D3 Teknologi Informasi dengan IPK 3,71. Hafiz saat ini melanjutkan kuliah S1 Teknik Informatika di Fakultas Teknik UB.
“Saya mengambil jurusan komputer karena hobi punya hobi komputer dari kecil. Saya punya impian bisa mengembangkan aplikasi untuk masa depan kita,” ungkap anak muda dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini.
Hafiz merasa nyaman selama belajar di UB karena ada akses untuk difabel tuli sehingga Ia berkomunikasi dengan baik. Hambatan dirasakannya saat pandemi covid saat belajar ia harus aktif bertanya kepada teman sekelas maupun lain kelas.
“Saat itu teman teman membantu saya belajar dengan benar, agar saya paham materi perkuliahan. Alhamdulillah dengan berusaha dan aktif bertanya, kuliah lancar dan bisa lulus D3,” katanya.
Hafiza Kartikasari Tika ini lulus dari Fakultas Vokasi, Program Studi D3 Teknologi Informasi dengan IPK 3,73. Meskipun sempat mengalami kesulitan berkomunikasi difabel tuli ini tetap bersemangat dalam menyelesaikan kuliahnya.
“Bisa kuliah di UB dan bertemu dengan teman-teman sesama difabel menurut saya sangat berkesan sekali, karena bisa belajar dan bercerita tentang pengalaman kuliah di program studi masing masing,” katanya.
Hal senada disampaikan Endjie Apta Martiazharine lulusan Program Studi D3 Teknologi Informasi dengan IPK 3,71. Gadis asli Malang ini mengaku mendapat banyak pengalaman saat mengikuti organisasi Forum Mahasiswa Peduli Inklusi Universitas Brawijaya (FORMAPI), yakni wadah bagi mahasiswa difabel dan non-difabel di UB. “Di organisasi itu saya banyak terlibat dalam kegiatan awareness untuk difabel, serta aktif dalam sie kehumasan,” ujarnya.
Selama kuliah, Apta sering belajar bersama dan berdiskusi. Saat ini Ia sudah bekerja sebagai staff IT di sebuah perusahaan, sambil mempersiapkan diri mengikuti tes CPNS.
Dhimas Dadyo Wicaksono, S.Sos lulus dari Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB dengan IPK 3,57. Disabilitas low vision tidak membuatnya kesulitan dalam proses perkuliahan.
“Selama kuliah, lingkungan fakultas dan kampus cukup ramah dalam menyediakan akses dan layanan bagi difabel. Saya tidak pernah pakai pendamping baik saat belajar di kelas, turun lapang untuk KKN/Magang, ataupun pengerjaan skripsi,” katanya.
Dhimas juga sangat bersyukur karena mendapatkan banyak bantuan dari dosen-dosen Prodi Sosiologi saat mengalami kesulitan membayar UKT.
Pemuda asal Surabaya ini aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya BEM FISIP, Fordimapelar, BGC, dan Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (FORMAPI). Ia juga membuat KOPINUS, yakni Komunitas Peduli Inklusi Nusantara (IG: @ko_pinus).
“Sejak saat itu saya fokus melakukan pergerakan sosial dalam rangka menyebarkan dan meningkatkan benih inklusivitas di tengah masyarakat, sehingga KOPINUS menjadi salah satu komunitas berskala nasional yang fokus dalam isu-isu inklusivitas,” jelasnya.
Tidak sedikit prestasi yang ditorehkan oleh Dhimas. Di antaranya Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional 2018 oleh Universitas Hang Tuah, Juara 3 lomba lari 100M dalam Kejuaraan Nasional 2019, oleh National Paralympic Committee of Indonesia, Best Speaker dalam TEDx Universitas Brawijaya 2020 di Kota Malang, serta dinobatkan sebagai mahasiswa terinspirasi UB dalam Program Euphoria Brawijaya 2021. Ia juga pernah menjadi asisten praktikum pengabdian di desa.
Saat ini Dhimas sedang berwirausaha dalam bidang pariwisata dan kuliner. Ke depannya Ia berencana melanjutkan S2 apabila ada kesempatan dan beasiswa.
Sementara itu, Rizky Adin Ardiansyah dari Program Studi D3 Teknologi Informasi dengan IPK 3,43. Ia minat pada Business digital & E- Commerce.
“Saya tertarik mengambil jurusan ini karena ingin belajar lebih banyak tentang bisnis dalam digital marketing, dan saya memiliki mimpi bisa mengembangkan aplikasi untuk promosi menjual seperti Tiktok Ads dan Google Ads dan Instagram Ads,” jelas pemuda yang akrab disapa Adin ini.
Seperti mahasiswa tuli lain, Adin mengaku nyaman berkuliah UB karena ada pendamping dan juru bahasa isyarat untuk membantu materi perkuliahan. Ia pun bisa berkomunikasi dengan baik, tanpa ada hambatan dan kesulitan.
“Saya berencana melanjutkan studi S1 tahun ini. Setelah lulus nanti akan lanjut mencari pekerjaan, mungkin melamar CPNS atau BUMN. Saya harap teman difabel tuli tetap semangat mengembangkan diri dan menambah pengalaman untuk masa depan lebih baik,” tutup pria asal Kediri ini. (dan/kun)






