Surabaya (beritajatim.com) – Kalianak Timur, sebuah kampung di Kelurahan Morokrembangan, Surabaya, Jumat (11/7/2025) pagi itu tampak seperti kampung mati. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Jalan sempit di antara rumah warga lengang. Tak terdengar suara anak-anak bermain, tak tampak pedagang sayur lewat, hanya air kecokelatan setinggi 30 hingga 50 sentimeter yang tenang menggenangi teras rumah.
“Kalau sudah rob, kampung ini memang mati,” kata Saiful Anam (42), warga asli Kalianak Timur, pelan. Tangannya memegangi gagang sapu lidi, sementara matanya menatap jalanan tergenang air di depan rumahnya.
Hari itu, banjir rob kembali datang. Ini sudah sejak Kamis (10/7) kemarin. Bukan kali pertama. Saiful bahkan tak lagi ingat berapa kali kampungnya kebanjiran dalam sebulan. “Bisa dua sampai tiga kali sebulan rob itu datang. Sejak saya kecil ya sudah begini,” tuturnya, sambil menghela napas panjang.
Kira-kira pukul 09.00 WIB, air pasang naik melewati bibir Sungai Kalianak yang membelah Morokrembangan. Air keruh itu dengan mudah masuk ke gang-gang kampung. Warga, seperti biasa, sigap menutup pintu rapat-rapat, menahan air dengan karung pasir atau tanggul semen buatan sendiri. Dalam waktu singkat, kampung sunyi. Orang-orang mengurung diri di balik pintu rumah, menunggu air surut.
Barulah sekitar pukul 11.30 WIB, air mulai perlahan surut. Kampung yang tadi mati, mendadak hidup lagi. Pintu-pintu rumah dibuka, orang-orang keluar membawa sapu lidi dan kain pel. Anak-anak kembali terlihat bermain di sisa genangan. Ada yang menertawakan lumpur lengket di kakinya, seolah lupa bahwa keriangan mereka lahir dari bencana tahunan yang tak kunjung usai.
“Kalau air sudah surut, kami keluar bersih-bersih. Saling bantu sama tetangga. Bersyukur masih bisa gotong royong,” kata Saiful. Di depan rumahnya, istri dan beberapa ibu-ibu tetangga sibuk mengeruk lumpur dari teras dengan sekop kecil. Tawa kecil kadang terdengar di sela keluh mereka.
Tetapi tetap saja, Saiful tak bisa menutupi rasa khawatirnya. Ia menunjuk garis bekas banjir di dinding rumahnya, sekitar setengah meter dari lantai. “Tahun ke tahun rasanya tambah dalam. Kami sudah meninggikan lantai rumah, bikin tanggul semen di depan rumah. Tapi sampai kapan harus terus meninggikan? Nggak mungkin,” ujarnya lirih.
Harapan Saiful hanya satu: agar pemerintah tak berhenti di proyek pelebaran Sungai Kalimas saja. Ia ingin pemerintah membangun tanggul permanen atau pintu air yang bisa benar-benar menahan rob.
“Kalau hanya kami warga sendiri yang meninggikan rumah, memperbaiki saluran, rasanya nggak cukup. Kami perlu tanggul, pintu air, biar rob ini nggak tiap bulan datang,” katanya.
Sementara itu, BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya sudah mengeluarkan peringatan dini. Fenomena banjir rob diperkirakan masih akan berlangsung hingga 13 Juli 2025, akibat fase bulan purnama yang memicu pasang laut maksimum. Ketinggian pasang di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak sendiri diprediksi bisa mencapai 130 hingga 150 sentimeter.
“Fase bulan purnama memengaruhi pasang surut, menyebabkan pasang maksimum yang berdampak banjir rob di wilayah pesisir Jawa Timur,” terang Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak, Sutarno, Kamis (10/7/2025).
Untuk Saiful, itu berarti beberapa hari lagi ia dan warga Kalianak Timur harus kembali bersiap. Menutup pintu rapat-rapat, menahan air dengan karung pasir, lalu menunggu kampung mereka mati lagi untuk sementara — sebelum hidup kembali ketika air mulai surut. [ram/beq]






